Sejumlah komoditas yang menjadi motor penggerak inflasi di antaranya adalah emas perhiasan, udang basah, ikan kembung, ikan tenggiri, daging ayam ras, beras, serta aneka sayuran dan buah-buahan.

“Untuk kenaikan harga rokok jenis Sigaret Kretek Mesin atau SKM dan Sigaret Kretek Tangan atau SKT turut memberikan kontribusi. Meski demikian, beberapa sektor justru tercatat mengalami penurunan harga atau deflasi,” ujarnya.

Kelompok pendidikan mengalami penurunan terdalam sebesar 13,61 persen, diikuti kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan (0,55 persen), serta perlengkapan rumah tangga (0,28 persen).

Komoditas spesifik seperti biaya SMA, cabai, dan bawang putih juga tercatat sebagai penyumbang deflasi.

Jika menilik tren dua tahun terakhir, inflasi Maret 2026 ini jauh lebih tinggi dibandingkan Maret 2025 yang hanya sebesar 0,88 persen. Namun, secara keseluruhan, angka inflasi bulanan dan tahun berjalan di 2026 masih cenderung lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga  Kenzo Kini Telah Berada di Cibubur, Siap Jalani Latihan Paskibraka Nasional

Sebagai catatan, puncak inflasi tertinggi dalam dua tahun terakhir terjadi pada Januari 2026 yang menyentuh angka 5,36 persen, sementara deflasi terdalam berada di angka 1,96 persen pada Februari 2025.

“Stabilitas harga pada sektor pangan tetap menjadi faktor kunci yang harus dijaga untuk mengendalikan laju inflasi di Kabupaten Bangka Barat ke depannya,” jelasnya.