Ukhuwah Islamiyah: Saat Iman Menjadi Perekat yang Melampaui Sekadar Nasab
Ukhuwah Islamiyah: Saat Iman Menjadi Perekat yang Melampaui Sekadar Nasab
Oleh: Sobirin Malian — Dosen PTS/PTN Yogyakarta
Dalam hiruk-pikuk perbedaan yang sering kali memicu gesekan, Islam datang dengan sebuah konsep revolusioner tentang persaudaraan: Ukhuwah Islamiyah. Ini bukan sekadar kata mutiara, melainkan mandat langit yang menempatkan ikatan iman jauh di atas ikatan darah, suku, maupun warna kulit.
1. Deklarasi Langit: “Sesungguhnya Mukmin itu Bersaudara”
Landasan utama bangunan persaudaraan ini dipancangkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 10. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
Ayat ini adalah sebuah proklamasi. Kata “Ikhwah” dalam bahasa Arab biasanya digunakan untuk saudara kandung. Dengan menggunakan istilah ini, Al-Qur’an ingin menegaskan bahwa rasa sakit yang dirasakan oleh seorang Muslim di satu belahan bumi, seharusnya berdenyut pula di hati Muslim lainnya. Menariknya, ayat ini langsung diikuti perintah untuk ishlah (mendamaikan). Artinya, persaudaraan Islam tidak membiarkan konflik menggantung; ia menuntut aksi nyata untuk merajut kembali benang yang terputus.
2. Tali Allah: Fondasi yang Mengharamkan Perpecahan
Persatuan bukanlah pilihan (opsi), melainkan kewajiban. Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103, kita diingatkan:
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…”
Bayangkan umat Islam adalah sekumpulan orang yang berada di tengah badai. Satu-satunya cara untuk selamat adalah memegang tali yang sama secara kolektif. Perpecahan (tafarruq) bukan hanya melemahkan posisi umat secara politik atau sosial, tetapi juga merupakan bentuk pengabaian terhadap nikmat persaudaraan yang telah Allah anugerahkan.
