3. Keberagaman: Bukan untuk Bertikai, Tapi untuk Mengenali

Seringkali perbedaan fisik atau latar belakang menjadi tembok pemisah. Namun, QS. Al-Hujurat ayat 13 menjungkirbalikkan standar duniawi tersebut:

“…Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…”

Islam mengakui realitas keberagaman suku dan bangsa (pluralitas), namun Islam menolak rasisme dan sektarianisme buta. Di mata Allah, kemuliaan tidak diukur dari garis keturunan, fisik, pangkat atau saldo rekening, melainkan dari kedalaman takwa. Dengan standar ini, ukhuwah menjadi sangat inklusif—siapa pun yang bersujud pada Tuhan yang satu, dia adalah saudara setujuan.

Catatan Kritis: Melampaui Sekat Mazhab

Ukhuwah Islamiyah hari ini menghadapi tantangan nyata dalam bentuk sentimen kelompok yang berlebihan. Kita tidak bisa menutup mata bahwa perdebatan panjang antara aliran, seperti Sunni dan Syi’ah, sering kali terjebak dalam pusaran konflik yang tidak berujung.
Penting untuk dipahami bahwa jika perdebatan tersebut hanya melahirkan kebencian, caci maki, dan pertumpahan darah, maka jelas hal itu tidak sejalan dengan nilai dasar ukhuwah.

Baca Juga  Mengapa Penangkapan Silfester Sangat Lambat?

Al-Qur’an memerintahkan kita untuk berpegang pada “Tali Allah”, bukan pada ego mazhab yang justru meruntuhkan bangunan besar Islam. Kedewasaan dalam menyikapi perbedaan sudut pandang adalah kunci; karena jika perbedaan aliran hanya membawa mudharat (kerusakan) dan memecah belah kekuatan umat, maka kita telah mengkhianati perintah Allah untuk menjaga perdamaian.

Penutup

Ukhuwah Islamiyah adalah ruh dari keberagamaan kita. Tanpa persaudaraan, Islam hanya akan tampak sebagai deretan ritual tanpa jiwa. Mari kita jadikan setiap pertemuan dengan sesama sebagai momentum untuk mempererat tali, mendamaikan yang berselisih, dan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menyatukan, bukan mencerai-beraikan. Sudah saatnya kita mengedepankan persamaan di bawah panji tauhid, melampaui segala sentimen kelompok yang hanya melemahkan barisan umat.

Baca Juga  Keluar dari Jebakan Waktu

Wallahu a’lam bish-shawabi.