Kejujuran yang Meruntuhkan Pedang: Pelajaran dari Remaja Baghdad

Ditulis Ulang Oleh Sobirin — Dosen Hukum UAD/Perajin Tulis Menulis

Di sebuah sudut sunyi di wilayah Jilan, seorang remaja berdiri dengan perasaan berkecamuk. Di hadapannya, sang ibu menatap dengan penuh kasih namun tegas. Remaja itu adalah Abdul Qadir, yang kelak dunia mengenalnya sebagai Syech Abdul Qadir Jaelani, “Sultan para Wali”.

“Ibu, izinkan aku pergi ke Baghdad. Aku ingin menimba ilmu, mencari cahaya di kota para ulama,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Ibunya tersenyum, sebuah senyum yang menyimpan keikhlasan luar biasa. Ia tahu, melepas anaknya ke Baghdad berarti melepas separuh jiwanya ke perjalanan ribuan kilometer yang penuh risiko. “Jika itu ketulusan hatimu, berangkatlah, Nak,” jawab sang ibu tenang.
Sebelum melangkah keluar pintu, sang ibu menjahitkan 40 keping dinar di balik lipatan baju di bawah ketiak anaknya sebuah warisan dari sang ayah.

Baca Juga  Menjaga Keseimbangan: Konservasi dan Pariwisata Berkelanjutan di Bangka Belitung

Namun, bekal yang paling berharga bukanlah emas itu, melainkan sebuah pesan singkat yang dititipkan ibunya:
“Wahai anakku, berjanjilah padaku satu hal: Di mana pun kau berada, dalam keadaan sesulit apa pun, jangan pernah kau berbohong. Selalulah berkata jujur.” Abdul Qadir mengangguk mantap. “Aku berjanji, Ibu.”

Ujian di Tengah Padang Pasir

Perjalanan menuju Baghdad tidaklah mudah. Di tengah rute yang sepi, rombongan kafilah yang diikuti Abdul Qadir dihadang oleh segerombolan perampok bengis. Pedang terhunus, teriakan menggelegar, dan ketakutan menyelimuti semua orang. Satu per satu harta pedagang dirampas.

Seorang perampok mendekati Abdul Qadir yang tampak tenang. Dengan nada meremehkan, perampok itu bertanya, “Hei anak muda, apa kau punya harta?”

Baca Juga  Mempertanyakan Relevansi Rencana Pemberian Wewenang Pertambangan ke Perguruan Tinggi

Tanpa ragu sedikit pun, Abdul Qadir menjawab pelan, “Aku membawa 40 dinar.”
Perampok itu tertawa terbahak-bahak. Ia mengira remaja ini sedang melucu atau ketakutan hingga bicara melantur. Ia membiarkannya berlalu. Namun, perampok kedua datang dan menanyakan hal yang sama. Abdul Qadir memberikan jawaban yang identik: “40 dinar, ada di bawah ketiakku.”