Menapaktilasi Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Menapaktilasi Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Oleh: Al Ansori, S.Th.I., M.Pd — Pimpinan Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA
Generasi muda Indonesia hari ini hidup di tengah arus deras globalisasi. Media sosial, teknologi digital, dan hiburan instan sering kali membuat mereka lupa menoleh ke belakang.
Padahal, di balik kemerdekaan bangsa ini tersimpan kisah-kisah heroik yang lahir dari keringat, darah, dan doa para ulama serta santri. Sejarah mereka bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi yang membentuk identitas bangsa.
Sejak masa penjajahan, ulama dan santri tidak tinggal diam. Pada abad ke-19, perlawanan terhadap Belanda muncul di berbagai daerah dengan corak keislaman yang kental.
Menurut Carey, P (2019), dalam bukunya Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785–1855, ketika membahas Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro, perang tersebut bukan hanya gerakan politik semata.
Tetapi juga gerakan keagamaan. Bahkan lebih kental semangat keagamannya karena melibatkan lebih dari seratus ulama dan puluhan haji yang menjadi motor spiritual rakyat.
Contoh lain, Tuanku Imam Bonjol, misalnya, memimpin Perang Padri (1803–1837) di Sumatra Barat. Dalam berbagai kajian menyebutkan perang ini menunjukkan bagaimana Islam menjadi identitas sekaligus daya juang rakyat melawan kolonialisme.
Bahkan jauh sebelum abad ke 19, peran para sultan yang didukung para ulama dan pejuang telah menorehkan catatan penting dalam perjalanan melawan kolonialisme dan penjajahan.
Sejarah perlawanan umat Islam di Nusantara sebelum abad ke-19 ditandai oleh munculnya tokoh-tokoh besar dari berbagai kerajaan Islam. Di Maluku, Sultan Baabullah (1533–1583) memimpin Ternate melawan Portugis setelah ayahnya dibunuh, dan berhasil mengusir mereka pada 1575.
Dari Aceh, Sultan Iskandar Muda (1607–1636) membangun kekuatan maritim dan menantang Portugis serta Belanda di Selat Malaka. Di Jawa, Sultan Agung (1613–1645) dari Mataram menyerang Batavia dalam upaya mengusir VOC, meski tidak berhasil merebutnya. Sementara itu di Sulawesi, Sultan Hasanuddin (1631–1670) dari Kerajaan Gowa melawan monopoli dagang VOC dengan gigih, hingga dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”.
Selain para sultan, ulama juga mengambil peran penting. Syekh Yusuf al-Makassari (1626–1699) terlibat dalam perlawanan bersama Sultan Hasanuddin, lalu melanjutkan jihad ke Banten sebelum akhirnya ditangkap dan dibuang ke Afrika Selatan. Meski hidup di pengasingan, ia tetap berdakwah dan menyebarkan semangat perlawanan.
Dari Kalimantan Selatan, semangat jihad melawan Belanda diwarisi oleh Pangeran Antasari (1809–1862), meski ia lebih aktif di abad ke-19. Seluruh tokoh ini menunjukkan bahwa jihad melawan penjajah bukan sekadar perjuangan politik, melainkan bagian dari menjaga martabat agama dan tanah air.
Memasuki abad ke-20, wajah perlawanan umat Islam terhadap kolonialisme mengalami transformasi. Jika abad sebelumnya perjuangan lebih banyak diwujudkan melalui peperangan tradisional yang dipimpin ulama karismatik seperti Diponegoro atau Tuanku Imam Bonjol, maka abad ke-20 memperlihatkan munculnya organisasi Islam modern. Organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang agama, melainkan juga sosial, pendidikan, dan politik sebagai wadah mengobarkan semangat kebangsaan.
Salah satu yang pertama adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) yang berdiri tahun 1905 di bawah kepemimpinan Haji Samanhudi. Organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1912.
Menurut M.C. Ricklefs seorang sejarawan terkemuka asal Australia yang sangat dikenal sebagai pakar sejarah Jawa dan Indonesia modern dan menulis buku Sejarah Indonesia Modern 1200–2008, SI adalah organisasi massa Islam pertama di Indonesia yang berhasil memobilisasi rakyat, menyatukan pedagang, ulama, dan santri dalam kesadaran politik melawan penindasan ekonomi kolonial.
