Narasi Perempuan Terkini: Tetap Utuh Bahkan ketika Relasi Runtuh
Carl Rogers menjelaskan bahwa individu yang memiliki penerimaan diri tanpa syarat (unconditional positive regard) tetap mampu memandang dirinya berharga, bahkan ketika mengalami penolakan atau kegagalan. Sementara Ann Masten mengartikan resiliensi sebagai “ordinary magic”, yakni kemampuan bertahan yang secara alami dimiliki setiap individu.
Dari sini dapat dipahami bahwa keutuhan perempuan tidak menuntut dirinya menjadi sosok yang luar biasa, melainkan cukup dengan kesadaran bahwa nilai dirinya tidak pernah ditentukan oleh siapa yang datang ataupun pergi dalam hidupnya.
Dalam perspektif Islam, nilai manusia tidak pernah ditentukan oleh status relasinya. Allah SWT. menegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 13, “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa”.
Relasi dalam Islam dibangun atas amanah dan kepercayaan, sehingga pengkhianatan adalah hal yang dilarang (QS. al-Anfal: 27). Namun, ketika amanah itu dilanggar, yang perlu dijaga bukan hanya hubungan, melainkan juga kehormatan diri.
Perempuan yang disakiti tidak kehilangan nilainya di hadapan Allah. Justru dalam kesabaran, keteguhan, dan kemampuannya menjaga diri, terdapat bentuk kemuliaan yang tidak terlihat, tetapi sangat berarti. Menjadi perempuan utuh bukan berarti tidak pernah terluka.
Sebaliknya, keutuhan seringkali justru lahir dari pengalaman kehilangan. Barangkali sudah saatnya narasi perempuan diubah. Bukan lagi tentang siapa yang memilih bertahan, tetapi tentang bagaimana perempuan tetap memilih dirinya sendiri.
Relasi bukan pusat kehidupan, ia hanyalah salah satu bagian dari perjalanan. Ketika perempuan benar-benar mengenal dirinya, memiliki arah hidup, dan berdiri di atas nilai yang ia yakini, maka kehilangan tidak lagi menjadi sesuatu yang menghancurkan, melainkan sekadar fase yang mempertegas siapa dirinya dan seberapa kuat ia mampu bertahan.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu memberi kita relasi yang bertahan, tetapi selalu memberi kita kesempatan untuk kembali pada diri sendiri. Perempuan yang utuh bukanlah mereka yang tidak pernah kehilangan, melainkan mereka yang tidak menyerahkan nilai dirinya kepada siapa pun yang datang dan pergi.
Sebab yang paling penting bukan tentang siapa yang memilih tinggal, melainkan apakah kita tetap memilih untuk berdiri, mengenali diri, dan melangkah dengan utuh. Karena ketika segalanya berubah, satu hal yang tidak boleh ikut hilang, diri kita sendiri.
“Nilai perempuan tidak pernah ditentukan oleh siapa yang memilih bertahan, tetapi oleh bagaimana ia tetap berdiri ketika ditinggalkan.”
