Strategi ini adalah bentuk erosi realitas secara bertahap. Dengan menyembunyikan kerapuhan fiskal di balik retorika ketahanan, negara sebenarnya sedang merampas hak publik untuk bersiap. Rakyat ditidurkan dengan angka-angka pertumbuhan yang abstrak, hingga akhirnya ketika harga kebutuhan pokok melambung, publik dipaksa menerima beban tersebut sebagai “nasib” atau kesalahan pasar, bukan sebagai kegagalan manajemen kebijakan yang sejak awal ditutupi kabut informasi.

Hiperrealitas: Saat Layar Membunuh Lapangan

Keberhasilan gaslighting negara di era digital tak lepas dari terciptanya apa yang disebut Jean Baudrillard sebagai “Hiperrealitas.” Melalui simulasi dan citra media, negara tidak lagi sibuk mengurus “wilayah” (kondisi nyata rakyat), melainkan lebih fokus mempercantik “peta” (laporan administratif dan konten media sosial). Dokumentasi penyerahan bantuan yang sinematik telah menjadi lebih nyata daripada fakta di lapangan.

Baca Juga  Hutan Dihabisi Pejabat/Pengusaha, UU PPLH Tumpul, Qur'an: Jangan Rusak Bumi!

Inilah kondisi “Simulakra,” di mana citra tentang kesuksesan telah membunuh fakta tentang kegagalan. Publik tidak lagi melihat bencana melalui mata korban, melainkan melalui lensa kamera humas pemerintah. Ketika realitas visual di layar menunjukkan pejabat yang tampak bekerja keras, masyarakat cenderung lebih percaya pada citra tersebut daripada kesaksian warga yang masih tertimbun lumpur. Layar telah menjadi pabrik “kabut” yang membuat batas antara kebenaran dan fiksi menjadi cair hingga tak berbekas.

Memecah Cermin Retak: Kedaulatan Data Warga

Menghadapi gempuran hiperrealitas ini, masyarakat sipil tidak boleh sekadar menjadi penonton pasif. Jika negara sibuk memoles “peta” pencapaian yang semu, maka rakyat harus membangun “peta tandingan” yang berpijak pada tanah yang nyata. Instrumen pengawas independen—seperti platform pelaporan warga berbasis seluler atau jaringan relawan data—menjadi krusial untuk merobek kabut narasi resmi. Kedaulatan data adalah benteng terakhir melawan gaslighting sistemik.

Baca Juga  Calon Sarjana Pengangguran: Kuliah Gampang, Kerja yang Sulit

Negara yang sehat hanya bisa tumbuh jika ada cermin yang jujur, bukan cermin retak yang hanya memantulkan citra yang diinginkan penguasa. Melawan simulakra berarti berani menyatakan yang pahit sebagai pahit, dan yang lapar sebagai lapar. Dengan menjaga nalar tetap terjaga dan solidaritas data tetap terhubung, kita memastikan bahwa kaki kita tetap menginjak bumi, meski kepala kita terus dibombardir oleh narasi melangit yang hampa. Karena kebenaran, sekecil apa pun, akan selalu memiliki bobot yang lebih berat daripada ribuan simulasi yang diproduksi oleh mesin kekuasaan.