Oleh: Sobirin Malian — Dosen FH UAD

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “sinting” adalah noda. Ia berarti sakit jiwa, tidak waras, atau kurang ingatan. Sebuah label yang dilemparkan kepada mereka yang dianggap cacat logika. Namun, mari kita bedah ulang: ada jurang yang dalam antara “edan” dan “sinting”.

Orang edan itu kalap; ia menghancurkan tanpa peta. Tapi orang sinting? Ia adalah akal sehat yang menolak berlutut pada kompromi. Ia tidak kehilangan nalar, ia hanya kehilangan rasa takut untuk menjadi berbeda. Jika dunia adalah mesin yang kaku, orang sinting adalah pasir yang sengaja masuk ke dalam girnya agar mesin itu dipaksa berhenti dan diperbaiki.

Baca Juga  Sudan dalam Krisis: Kegagalan Transisi Politik dan Runtuhnya Institusi Negara sebagai Pemicu Konflik

Lihatlah Charles Darwin. Di abad ke-19, ia dianggap “sinting” karena membuang jubah dokter demi mengejar kumbang dan mengamati burung pipit di kapal Beagle. Ia tidak pulang membawa emas, tapi ia membawa kebenaran yang meruntuhkan ego manusia tentang asal-usulnya.

Ia mengubah sains selamanya karena ia cukup sinting untuk tidak menjadi apa yang diinginkan ayahnya.
George Bernard Shaw benar: sejarah adalah catatan tentang orang-orang yang “tidak masuk akal”. Orang waras sibuk menyesuaikan diri dengan dunia yang berisik, sementara orang sinting sibuk memaksa dunia agar sesuai dengan visinya. Tanpa orang sinting, kita mungkin masih hidup dalam gua, terlalu takut untuk mencoba api karena “kata orang-orang waras itu berbahaya”.

Baca Juga  Antara Memanfaatkan atau Dimanfaatkan Teknologi

Di tanah air, kita punya preseden tentang bagaimana kesintingan berpadu dengan iman yang meluap. Ingatlah KH Ahmad Dahlan. Ia dianggap “sinting” karena melakukan hal yang tak lazim: mengulang-ulang pelajaran surat Al-Ma’un selama berbulan-bulan. Ketika santrinya bertanya kapan akan ganti surat, ia menjawab dengan tajam: jangan sekadar berhenti menghafal, tapi implementasikan!

Baginya, beragama bukan soal merdu di telinga, tapi soal tangan yang kotor karena bekerja menyantuni anak yatim dan memberi makan orang miskin. Melalui ruh amar makruf nahi mungkar, “kesintingan” amal itu kini mewujud nyata: ribuan lembaga pendidikan mulai dari TK hingga universitas S-3 berdiri tegak karena satu orang menolak menjadi “waras” yang pasif.

Baca Juga  Dinamika Pelestarian Humpit Beduri