Begitu juga dengan Gus Dur. Beliau dianggap nyeleneh oleh protokol, dianggap aneh karena tak tertebak. Namun, di balik leluconnya, ia sedang meruntuhkan tembok ketakutan. Ia menggunakan humor sebagai senjata untuk membela yang minoritas dan menertawakan mereka yang mabuk kuasa. Gus Dur mengajarkan bahwa terkadang, untuk menyampaikan kebenaran yang pahit, kita butuh kemasan yang jenaka.

Namun, kita perlu mencatat satu hal krusial: kesintingan ini bukan sekadar gaya-gayaan atau perilaku asal beda. Kunci kewarasan di balik semua gebrakan itu akhirnya adalah kerja keras yang gigih dan kerja cerdas yang presisi.
Orang sinting yang berhasil adalah mereka yang tidak hanya punya mimpi besar di kepala, tapi juga punya kapalan di tangan dan strategi di tindakan.

Baca Juga  Mahasiswa MP UAD Gelar Webinar Nasional, Tingkatkan Kompetensi Guru Wujudkan Merdeka Belajar

Mereka bekerja lebih keras dari orang rata-rata karena mereka punya visi yang lebih besar untuk dibuktikan. Mereka bekerja lebih cerdas karena mereka tahu bahwa menabrak tembok tanpa perhitungan hanyalah konyol, tapi mencari celah untuk meruntuhkannya adalah jenius.

Tragedi bangsa ini bukanlah kekurangan orang pintar. Kita punya jutaan orang pintar yang berbaris rapi dalam antrean zona nyaman. Masalah kita adalah kita kekurangan “orang sinting” yang mau berkeringat. Kita kelebihan orang waras yang terlalu kalem, yang terlalu tunduk pada tata tertib meski sistem sedang membusuk.

Sejarah tidak pernah lahir dari meja rapat yang wangi dan tenang. Sejarah lahir dari tangan-tangan yang gemetar karena gairah, dari kerja keras yang tak kenal lelah, dan dari kepala-kepala yang berani ditunjuk “sinting” karena menabrak jalan buntu untuk menyulut jalan baru.

Baca Juga  Ketika Organisasi Mengalami "Demam"

Maka, jangan buru-buru menutup pintu pada yang aneh. Sebab ketika semua orang memilih untuk aman dan nyaman, kesintingan yang dibarengi kerja keras adalah satu-satunya jalan menuju perubahan.