Oleh: Rusmin Sopian

Seorang anak muda yang kini mengemban amanah sebagai pejabat daerah, bercerita bagaimana dirinya dipanggil nama oleh bawahannya.

Hebatnya pejabat tersebut sama sekali tidak tersinggung dengan semua itu.

Sebagai orang yang lebih muda usia dan belum lama berkecimpung dalam dunia birokrasi, tentunya dia paham dan tahu diri.

Soal prestasi kerja tentunya bisa bersaing seiring tantangan zaman yang semakin berdinamika. Soal pemahaman regulasi tentunya bisa berkompetisi seiring dengan era perubahan regulasi yang sangat cepat.

Seorang teman kami yang ikut ngobrol dalam perbincangan saat matahari mulai menuruni langit itu, tiba-tiba nyeletuk.
” Memangnya saat dia mengemban amanah sebagai pejabat, prestasi hebat apa yang pernah diperbuatnya untuk daerah ini? Untuk masyarakat daerah ini?” celetuk teman kami yang tiba-tiba membuat kami semua diam. Suasana menghening, tiba-tiba terdengar suara azan Magrib.

Baca Juga  Hilirisasi Timah dalam Perspektif Wawasan Nusantara

Tidak semua orang memiliki jiwa besar untuk mengakui dan mengapresiasi keberhasilan orang lain, kerja cerdas orang lain.

Hal tersebut dipicu oleh faktor psikologis di antaranya tidak dapat menerima kenyataan bahwa orang lain sudah melakukan sebuah pencapaian tertentu sedangkan dirinya masih berada di level yang itu-itu saja.