Bundaran Pangkalpinang: Simpul Kota dan Simbol Kota
Bayangkan tengah bundaran menuju perkantoran Provinsi dari arah semabung, Air itam, Pangkal Balam berdiri instalasi timah yang mengalir, menyatu dengan air dan lampu. Seperti dulang raksasa yang di malam hari memantulkan cahaya, simbol rezeki dari laut dan bumi Kepulauan Bangka Belitung. Dikelilingi pohon pinang tertata rapi, dengan bangku di pinggirnya tempat orang nunggu kendaraan jemputan sambil lihat kota bergerak.
Kota-kota maju di dunia paham bahwa landmark bukan proyek mercusuar, tapi pengikat emosi warga. Warga yang bangga dengan kotanya akan menjaganya. Tidak buang sampah sembarangan di bundaran, tidak coret-coret tugu, karena mereka merasa memiliki.
Bundaran bukan sekadar putaran jalan, bundaran jadi identitas kota, ruang publik, sekaligus solusi lalu lintas. Untuk Pangkalpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bundaran punya potensi besar menjadi simbol kemajuan kota provinsi yang modern tapi tetap berkarakter.
Jadi harapan untuk bundaran di Pangkalpinang sebenarnya sederhana, tapi dalam membangun tentunya menggunakan data yang valid, bukan perasaan. Libatkan Dishub, PU, dan insinyur lalu lintas. Kalau ruangnya sempit, jangan dipaksa bundaran. Jujur ke warga “bahwa di sini lebih cocok traffic light”, Itu lebih mulia daripada bangun tugu megah yang tiap hari diklaksonin orang.
Dalam hal desain terdapat keindahan dari kearifan lokal yang berakar, artinya jangan asal tiru desain dari kota lain. Kita punya lada, punya dulang, punya laut, daerah penghasil timah, punya sejarah perjuangan bangsa . Cerita kita cukup kuat untuk jadi inspirasi. Bundaran harus bisa jawab pertanyaan turis: “Ini kota apa, ya?” tanpa harus baca tulisan.
Terkait ruang untuk manusia, kota bukan sirkuit. Beri zebra cross yang aman, beri ramp untuk kursi roda. Beri teduh untuk pejalan kaki. Bundaran hebat adalah bundaran salah satunya ramah pada kaum disabilitas, nenek yang mau ke pasar dan anak sekolah yang pulang jalan kaki.
Pangkalpinang terus tumbuh menjadi kota jasa. Jalan harus memadai, bangunan naik, investasi datang. Bundaran adalah titik tempat semua gerakan itu bertemu. Kalau kita benar di titik ini, maka kota akan terasa benar di semua arah.
Kita tidak butuh bundaran paling besar se-Sumatera. Kita butuh bundaran yang paling “Pangkalpinang”. Yang lancar, yang berkarakter, yang bikin kita dan tamu yang datang bilang: “Kota ini tahu mau ke mana.”
Karena pada akhirnya, kota yang baik bukan kota yang sibuk membangun. Tapi kota yang membangun sambil mengerti identitas dan arah tujuan masa depan kota, bundaran adalah salah satu tempat paling jujur untuk menunjukkan arah itu. (**)
