Bundaran Pangkalpinang: Simpul Kota dan Simbol Kota
Oleh: Heri Suheri, C.IJ., C.PW., CA-HNR., C.FLS.
Jika kita membentang dari ujung barat ke ujung timur Indonesia, setiap kota yang berkesan selalu punya satu landmark yang langsung terbayang. Jakarta identik dengan HI, Yogyakarta dengan Tugu, Pontianak dengan Digulis, Belitung dengan Bundaran Satam. Bagaimana dengan Pangkalpinang?
Kita memang punya banyak persimpangan, tapi masih kurang memiliki “persimpangan yang bermakna dan bercerita”, padahal bundaran punya potensi untuk menyatukan berbagai arah jalan sekaligus menjadi penanda identitas kota sebuah simbol yang menceritakan siapa kita dan arah yang ingin kita tuju.
Bundaran yang baik seharusnya dapat membantu mengurai kemacetan, membuka jalur kendaraan untuk terus bergerak ke masing-masing simpang, atau arah tujuan, banyak dari kita mendengar kata “bundaran baru” langsung khawatir: “Wah, macet lagi.” Wajar, karena kita pernah lihat bundaran yang ukurannya dipaksakan, rambu-nya membingungkan, dan ujung-ujungnya malah bikin kendaraan saling kunci.
Tapi bundaran yang direncanakan dengan presisi dan benar justru kebalikannya. Bisa menjadi pengurai kemacetan yang bikin arus mengalir tanpa harus berhenti lama di lampu merah. Syaratnya membangun dengan keilmuan terintegrasi, bukan sekadar estetika.
Contohnya yaitu hitung diameternya, lebarkan jalan sebelum masuk, tegas soal aturan “yang di dalam duluan”. Bebaskan radius 100 meter dari parkir liar. Kalau hitungannya pas, bayangkan ada bundaran di simpang arah rumah sakit Soekarno/ Selindung dekat Taman Remangok atau Simpang Semabung arah gapura pintu masuk komplek perkantoran Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bisa berubah dari titik stres jadi titik lega.
Bundaran yang baik tidak terasa, kita lewat, lancar sampai tujuan. Itu fungsi paling jujur dari sebuah pembangunan. Setelah lancar, baru kita bicara indah. Karena perjalan di kota bukan cuma soal cepat sampai. Kota juga soal rasa. Soal bangga waktu lewat dan bisa bilang ke anak, “Ini lho, Kota Pangkalpinang.”
Daripada tugu generik, bundaran sebenarnya bisa menampilkan ikon Provinsi Babel yaitu dengan sentuhan kontemporer, ini akan memperkuat city branding. Taman di tengah bundaran dengan pohon peneduh khas seperti pinang, ketapang atau tanjung.
Tambah water feature atau lampu artistik malam hari. Bisa jadi spot foto warga & wisatawan, mendukung ekonomi malam. Desain tentunya harus mempertimbangkan iklim Pangkalpinang yang panas. Pilih material tidak silau, drainase baik agar tidak jadi “kolam” saat hujan.
