Ada sesuatu yang hilang di balik kemudahan itu yakni sebuah nilai “penghormatan” kepada tamu. Beratnya piring keramik dan beningnya gelas kaca dulunya menyampaikan pesan bahwa tamu layak mendapatkan yang terbaik. Penggunaan alat sekali pakai, meski efisien, terkadang terasa mereduksi nuansa sakral sebuah perhelatan.

Kita memang mendapatkan kecepatan, tetapi kita kehilangan estetika dan martabat jamuan yang dulunya dijaga ketat lewat ritual pencucian yang teliti di atas bilah-bilah kayu pantai.

Dinamika sosial di area pantai pun ikut menyusut. Jika dulu para pemuda dan tetangga berkumpul untuk menggosok piring sambil bertukar cerita dan lelucon, kini ruang interaksi itu mulai menghilang. Ritual mencuci piring yang dulunya menjadi ajang silaturahmi paling cair bagi kaum pria di belakang rumah, kini digantikan oleh tumpukan sampah plastik yang mati.

Baca Juga  Analisis Faktor Penyebab Penurunan Populasi Monyet Hitam Sulawesi dan Strategi Konservasi yang Relevan

Pantai bukan hanya kehilangan airnya, ia kehilangan “ruh” manusiawinya; tempat di mana lelah dibagi bersama di antara percikan air dan suara denting logam.

Secara lingkungan, transisi ini membawa tantangan yang nyata bagi tanah Toboali. Volume sampah plastik pasca-hajatan kini melonjak drastis. Jika dulu sisa hajatan hanyalah limbah organik yang bisa kembali ke alam, kini gunungan plastik dan gelas mineral menjadi beban tambahan yang tak mudah terurai.

Kepraktisan yang kita nikmati saat ini ternyata harus dibayar mahal dengan hilangnya sebuah ekosistem budaya yang dulunya sangat ramah lingkungan dan teratur lewat sistem pantai tersebut.

Pada akhirnya, pantai di Toboali kini berdiri di persimpangan zaman. Ia mungkin akan segera menjadi dongeng tentang sebuah panggung kayu yang senantiasa basah, tempat kejujuran dan gotong royong diuji.

Baca Juga  Implementasi Prinsip Understanding by Design dalam Proses Pembelajaran

Kita mungkin tidak bisa menolak piring rotan dan plastik nasi, namun kita harus sadar bahwa setiap piring plastik yang kita buang adalah satu langkah menjauh dari kehangatan silaturahmi di atas Pantai. Sebuah pantai tanpa ombak yang kini perlahan mengering, menyisakan kerinduan akan bunyi air yang jatuh di sela-sela ranting kayu.