Nyungkur di Pesisir Pantai: Keseimbangan Nilai Budaya dan Ekonomi Masyarakat Toboali
Oleh: Said Nouval, S.Pd.SD
OPINI, TIMELINES.ID — Bangka Selatan Negeri Beribu Pesona.
Negeri yang terletak di Selatan Pulau Bangka ini, secara astronomis berada pada titik 2°26’27”-35°’56” Lintang Selatan dan 107°14’31”-105°53’09” Bujur Timur.
Secara geografisnya daerah ini berbatasan langsung dengan daratan wilayah kabupaten/kota lainnya di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu dengan wilayah Kabupaten Bangka Tengah di sebelah Utara.
Di sebelah Barat dan Selatan berbatasan dengan Selat Bangka dan Laut Jawa, sedangkan di sebelah Timur berbatasan dengan Selat Gaspar.
Kita mengenalnya daerah ini adalah Negeri Junjung Besaoh yang berpusat di Ibukota Toboali.
Negeri yang banyak menyimpan kekayaan dan keelokan penuh makna. Betapa kayanya daerah ini patut untuk dijelajahi, mulai dari wisata alam, kuliner, adat, budaya dan sosial, serta religi yang tentunya memberikan inspirasi bagi semua pihak.
Berdasarkan kondisi daerahnya secara umum dikelilingi perairan laut, sehingga memberikan nuansa identik dengan kehidupan di pesisir pantai tersebar dan berada di beberapa titik lokasi khususnya kota Toboali yang memberikan keberagaran warna budaya dan kearifan lokal dan sangat berkesan baik bagi masyarakat lokal maupun nasional..
Kekayaan alami tersebar di pantai kota Toboali, baik hayati maupun nonhayati bak memesona semua orang yang melihatnya.
Selain keindahan pantai, kekayaan alami di pesisir pantai ini juga memiliki keanekaragaman hayati berupa ikan, kepiting, udang, dan lain-lain.
Keanekaragaman sumber kehidupan hayati di antaranya udang kecil yang dikenal dengan rebon atau udang hungkur (Bahasa daerah Toboali).
Udang ini menjadi salah satu sumber kehidupan bidang perikanan masyarakat Toboali yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Udang ini menjadi salah satunya bahan baku dalam pembuatan terasi (Belacan: bahasa daerah Toboali) yang menjadi ciri khas buah tangan berjenis bumbu masakan dari Kota Toboali.
Selain itu udang ini bisa dibuatkan makanan khas daerah Toboali bernama Calok (permentasi udang hungkur atau rebon).
Adapun proses pembuatan belacan dan calok ini diawali dengan pencarian menggunakan alat hungkur yang dikenal dengan tradisi “Nyungkur”.
Arani, warga Toboali yang bermata pencaharian sebagai nelayan bersama istrinya sudah menjalani pekerjaannya berpuluh tahun lamanya.
Arani menceritakan bahwa Nyungkur ini menjadi salah satu tradisi kearifan lokal daerah Toboali yang patut dilestarikan. Tradisi ini merupakan kebiasaan turun temurun yang sudah ada sejak lama dilakukan khususnya di kota Toboali.
Nyungkur dapat diartikan upaya mencari udang hungkur atau rebon menggunakan alat khusus yang dilakukan di perairan laut dangkal sekitar pesisir pantai.
Adapun alat yang digunakan itu namanya Hungkur. Alat ini memiliki karakteristik unik dan menarik. Alat ini terdiri dari tiga bagian pokok, berupa badan, kaki dan ekor.
Alat ini terbuat dari bahan-bahan seperti: jaring wareng, bambu atau kayu, sabut kelapa, dan tali.
Bahan-bahan itu dirakit sedemikian rupa dengan membuat kerangka berbahan bulo (bambu) atau kayu-kayu yang mudah mengapung, seperti: betur, tileng, mendulang, dan lain-lain.
Setelah itu dirangkai dengan jaring wareng, dan terakhir dipasang dengan bagian sepatu atau alas, berbahan sabut kelapa atau sandal bekas, atau ban bekas yang dipotong sesuai kebutuhan, hal ini bertujuan untuk melancarkan pencarian udang hungkur di air, agar tidak tertanam di pasir maupun lumpur laut.
Kemudian diikat dengan menggunakan tali. Selanjutnya bagian depan alat itu dicaci menggunakan kayu (dicaci:dikunci dan diikat menggunakan tali).
Tradisi Nyungkur menggunakan alat hungkur ini pada umumnya dilakukan sepanjang tahun oleh beberapa kalangan, khususnya nelayan.
Namun berdasarkan pengalaman masyarakat, pada saat itu biasanya para nelayan hanya memperoleh hasil tangkapan rebon dalam jumlah sedikit.
Tetapi pada bulan-bulan tertentu dalam setiap tahunnya ketika memasuki bulan Juni hingga Juli yang dikenal dengan musim angin tenggara, oleh masyarakat Toboali menyebutnya musim Tenggaro atau Helet Helatan, membuat para nelayan bersemangat untuk Nyungkur, karena biasanya mereka akan banyak memperoleh udang hungkur yang melimpah.
Hal itu terjadi rebon akan banyak mengarah di sekitar air dangkal di pesisir pantai daerah sekitar Toboali.
Pada saat musim ini, biasanya terjadi dalam keadaan aek taruk (bahasa Toboali) yang berarti air pasang kecil dan airnya surut dengan gelombang kecil.
Ketika itu para nelayan melaut untuk Nyungkur juga dalam keadaan air setinggi lutut, setinggi pinggang, setinggi dada, setinggi ketiak, dan setinggi bahu (sepayang).

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.