Nyungkur di Pesisir Pantai: Keseimbangan Nilai Budaya dan Ekonomi Masyarakat Toboali
Keadaan air ini tentunya memudahkan para nelayan melakukan tradisi Nyungkur secara mandiri maupun kelompok.
Para nelayan jika sudah memasuki musim tenggaro, mereka secara mandiri berbondong-bondong menuju pantai-pantai di sekitar Toboali, tetapi ketika sudah berada di pantai terlihat beramai-ramai sehingga suasana dengan pemandangan yang menarik terlihat masyarakat dari berbagai kalangan untuk mencari udang kecil atau rebon di sekitar pesisir pantai dengan alat hungkurnya masing-masing.
Nyungkur ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan saja, tetapi masyarakat dari berbagai pekerjaan terkadangpun ikut nyungkur sembari mengisi waktu luang dan bisa menjadikan penghasilan tambahan bagi mereka dalam kehidupan sehari yang dijadikan sebagai bahan baku membuat terasi atau belacan dijual maupun dibuatkan terasi secara mandiri.
Masyarakat Toboali yang beragam suku, agama, dan budaya berbaur dalam pencarian udang hungkur atau rebon.
Pada umumnya para nelayan Nyungkur di beberapa titik lokasi pantai sekitaran Toboali, diantaranya pantai Baher, Kubu, Merbau, Nek Aji, Kelambui, Tanjung Medang, dan daerah pantai lain-lainnya.
Mereka biasanya berangkat dari rumah masing-masing pada waktu dini hari, pagi hari, dan sore hari.
Dini hari mereka mulai nyungkur pada waktu kurang lebih pukul 04.00 WIB, pukul 05.00 – 12.00.
Selanjutnya juga ada memulainya pada siang hari hingga sore, dengan perkiraan pukul 13.00 – 16.00 WIB.
Proses nyungkur ini, dilakukan para nelayan dan masyarakat pesisir pantai Toboali dengan menggunakan alat Hungkur. Mereka menyusuri air laut perlahan-lahan mendorong hungkur secara bolak-balik dengan penuh kesabaran.
Ketika Nyungkur mereka tentunya berharap banyak mendapatkan udang hungkur atau rebon.
Dengan usaha dan doa mereka mengumpulkan rebon hasil tangkapannya, sedikit demi sedikit dan jika sudah terasa banyak mereka mengarahkan ke pantai untuk meletakkan udang itu ke dalam wadah yang tersedia, biasanya karung bekas dan lain sebagainya.
Kemudian mereka kembali Nyungkur dengan melakukannya seperti semula dan ada juga yang memilih beristirahat sejenak untuk melepas lelah.
Para nelayan yang sedang Nyungkur menyelesaikan pencarian udang hungkur sampai kiranya waktu yang disesuaikan dengan kondisi dan keinginan setiap para nelayan.
Hasil tangkapan berupa udang hungkur itu, selain dijadikan bahan ebi (bahan utama belacan atau terasi), udang itu dibuat calok (permentasi udang rebon).
Di sisi lain jika hasil tangkapannya melimpah ruah, maka bisa dijadikan sumber protein hewani untuk tambahan bahan makanan lauk pauk nelayan sendiri.
Selain itu, udang itu yang masih basah itu bisa dijual di lingkungan masyarakat sekitar dengan harga pasaran yang murah meriah, sehingga bisa menjadi penghasilan tambahan bagi nelayan itu sendiri.
Dari uraian tersebut, menjelaskan bahwa Nyungkur merupakan sebuah tradisi kearifan lokal secara turun temurun yang sudah sejak lama dilakukan masyarakat Toboali dari berbagai kalangan, khususnya para nelayan.
Tradisi lokal ini memberikan gambaran kehidupan nyata yang mengajarkan arti pentingnya semangat kerja keras dan kesabaran.
Kerja keras itu ditunjukkan para nelayan dan masyarakat sekitar melakukan pencarian dengan pola bolak-balik dan serah, menyusuri perairan dangkal di pesisir pantai, mengumpulkan rebon sedikit demi sedikit dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun penghasilan tambahan.
Selain itu, kesabaran itu ditunjukkan oleh para nelayan tetap mencari udang hungkur atau rebon meskipun belum memasuki musim tenggara atau tenggaro yang umumnya rebon banyak mengarah ke pantai, sehingga memudahkan mereka memperoleh rebon lebih banyak.
Hasil Nyungkur para nelayan dalam pencarian rebon dapat dimanfaatkan untuk membuat terasi atau belacan, calok (permentasi rebon) sebagai bahan makanan khas Toboali yang sering dicari oleh para pengunjung dari dalam maupun luar daerah Toboali, Bangka Selatan.
Dengan demikian para nelayan dan masyarakat sekitar dapat memperoleh penghasilan utama maupun sampingan yang mumpuni.
Hal ini tentunya memberikan keseimbangan antara nilai sosial budaya kearifan lokal dengan nilai-nilai ekonomi di lingkungan masyarakat.
Oleh karenanya mari kita eksistensikan Nyungkur untuk masa depan generasi mendatang dengan mempertimbangkan kelestarian alam lingkungan sekitar dan jangan sampai kearifan lokal yang begitu memesona dan berharga ini sirna begitu saja seiring perjalanan waktu.
Sumber Referensi:
https://jdih.bangkaselatankab.go.id/content/kondisi-geografis
https://id.wikipedia.org/wiki/Toboali,_Bangka_Selatan
Buklet Pesona Negeri Junjung Besaoh (Penerbit: Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bangka Selatan;2019)
Said Nouval, S.Pd.SD, pengajar di SDN 7 Toboali, Bangka Selatan

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.