Oleh: Indra Pirmana

Senja tiba, menampakan hati mulai gundah
kambuhmu adalah sedihku,
batukmu adalah sedihku,
sakitmu adalah sedihku.

Saat keheningan menyelimuti, aku rasakan rasa gelisahmu
saat matahari menampakan sedikit cahayanya, obat pun siap saji
saat matahari menguasai langit, obat pun siap saji
saat kegelapan datang, obat pun siap saji.

Tetapi kenapa waktu mengubahnya?
Seiring berjalannya waktu bagaikan detak jantung,
kini sakitmu biasa saja.

Tidak ada lagi perintah,
rasa iba tidak lagi menyala
rasa peduli tidak lagi sama.

Baca Juga  Nun (5): Mencari Jalan