Ia mengaitkan fenomena ini dengan teori bank efficiency structure (Demsetz, 1973), di mana lembaga dengan efisiensi operasional tinggi memiliki daya tahan lebih baik saat krisis.

Sebagai contoh, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI berhasil mencatat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp40,155 triliun pada kuartal I-2026, atau tumbuh 11,9 persen yoy.

Fokus BRI pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai sukses menopang fungsi intermediasi di tengah volatilitas global.

Selain fokus sektor, faktor pendorong stabilitas perbankan BUMN lainnya meliputi diversifikasi portofolio kredit. Dalam hal ini, meminimalkan risiko konsentrasi kredit dan menjaga kualitas aset adalah hal prioritas.

Baca Juga  15 Juta Kendaraan Listrik Ditargetkan Mengaspal di Tahun 2030

“Kedua, transformasi digital, saya kira sangat krusial meningkatkan efisiensi layanan, menekan biaya operasional, dan memperluas inklusi keuangan. Ketiga sentimen publik, maksudnya tingginya kepercayaan masyarakat terhadap Himbara memperkokoh stabilitas sistem keuangan nasional,” katanya.

Elvi optimistis sektor perbankan nasional masih memiliki ruang pertumbuhan positif sepanjang tahun 2026. Syarat utamanya adalah stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga dan permintaan kredit produktif terus meningkat.

“Selama konsumsi domestik, sektor UMKM, dan investasi pemerintah tetap berjalan, bank-bank BUMN seperti BRI masih berpotensi menjadi motor utama pertumbuhan intermediasi perbankan nasional,” tutup Elvi.