Ketahanan nasional menuntut kita membangun industri hilir yang terintegrasi dengan riset, teknologi, dan SDM lokal. Pengalaman pandemi dan konflik geopolitik dalam beberapa tahun ini membuktikan, negara yang bergantung pada impor pangan dan energi adalah negara yang rentan.

Menguatkan benteng dari dalam berarti membenahi rantai pasok pertanian, memangkas rantai distribusi yang panjang, dan memberi insentif nyata bagi petani muda yang mau bertani dengan teknologi. Di sektor energi, transisi ke energi bersih harus disertai peta jalan yang adil, agar industri padat karya tidak mati sebelum waktunya.

Keempat tentang adaptasi teknologi dan optimalisasi pasar domestik adalah Indonesia mampu menjawab disrupsi ruang digital dan mengoptimalkan pasar domestik, karena disrupsi digital membawa dua sisi. Di satu sisi, teknologi membuka peluang inovasi, efisiensi, dan akses pasar global bagi UMKM dan anak muda. Di sisi lain, ruang digital menjadi medan baru ancaman kejahatan siber, disinformasi, dan polarisasi.

Kebangkitan Nasional 2026 menuntut kita tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi pencipta teknologi. Adaptasi digital harus disertai penguatan literasi digital, perlindungan data pribadi, dan penegakan hukum siber yang tegas. Platform digital asing yang beroperasi di Indonesia harus tunduk pada aturan yang melindungi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Baca Juga  Begini Pesan Pj Wali Kota Unu di Hari Kebangkitan Nasional

Dengan 280 juta penduduk, Indonesia memiliki pasar domestik terbesar keempat di dunia. Ini adalah benteng alami yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. UMKM menyerap sebagian besar tenaga kerja, tetapi produktivitasnya masih rendah. Kebijakan afirmatif untuk produk dalam negeri, penguatan koperasi, dan penertiban platform digital asing yang merugikan UMKM bukan lagi pilihan. Itu syarat agar pasar domestik menjadi penahan guncangan, bukan sekadar pasar bagi produk luar.

Kelima tentang merekatkan persatuan untuk produktivitas, yaitu mengikat sasaran perjuangan yang telah diuraikan dari pertama sampai keempat  diatas menjadi kesatuan untuk kebangkitan nasional, karena Boedi Oetomo lahir dari kesadaran bahwa perpecahan melemahkan.

Hari ini, tantangan itu kembali dalam bentuk polarisasi sosial dan politik identitas yang merajalela di ruang digital. Energi bangsa terkuras untuk konflik simbolik, sementara persoalan konkret seperti pengangguran, ketimpangan wilayah, dan kualitas pendidikan tertunda.

Baca Juga  "Menang Segek, Kalah Pancak"

Memperkuat kembali identitas bangsa yang merupakan ciri khas untuk menyatukan masyarakat meski berbeda suku, budaya, dan agama. Fungsi utamanya adalah merekatkan  ikatan sosial, menumbuhkan rasa memiliki yang sama, meredam potensi konflik, dan menjaga agar kehidupan bersama tetap berjalan harmonis.

Oleh karena itu ketahanan nasional membutuhkan etos kerja kolaboratif. Pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus bersatu menyelesaikan persoalan konkret. Persatuan bukan berarti seragam dalam pendapat, tetapi bersatu dalam tujuan: membangun bangsa yang mandiri dan berkeadilan.

Saatnya bangkit dalam aksi nyata, kebangkitan nasional 2026 harus menjadi penanda berakhirnya era “bertahan sambil berharap”. Kita tidak bisa terus bergantung pada harga komoditas dan utang luar negeri untuk menjaga stabilitas.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu memproduksi, berinovasi, dan melindungi rakyatnya sendiri ketika badai datang. Benteng itu tidak dibangun di forum internasional, tetapi di sawah yang produktif, di pabrik yang inovatif, di laboratorium yang aktif, dan di ruang kelas yang mendidik.

Baca Juga  Menanti Kedamaian bagi Penjaga Perdamaian

Jika Boedi Oetomo 1908 memilih persatuan sebagai jalan, maka Boedi Oetomo 2026 harus memilih kemandirian sebagai arah. Kemerdekaan sejati diukur dari seberapa besar kita mampu berdiri tanpa takut dijatuhkan oleh guncangan luar.

Hari Kebangkitan Nasional adalah ujian kejujuran. Sudahkah kita merawat dan menumbuhkan tunas bangsa dengan sungguh-sungguh? Sudahkah kebijakan kita berpihak pada generasi yang akan memikul beban kedaulatan 20 tahun ke depan?

Jika tidak, maka peringatan 20 Mei akan terus menjadi seremoni tanpa makna. Tetapi jika ya, maka dari ruang kelas sederhana dan desa yang jauh akan lahir kekuatan baru yang membuat Indonesia benar-benar merdeka secara ekonomi, teknologi, dan budaya.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2026. Saatnya bangkit, bukan hanya dalam semangat, tetapi dalam aksi nyata memperkuat benteng ketahanan nasional dari dalam.