Tak Ada Karangan Bunga, Tak Ada Belasungkawa
“Tak ada karangan bunga, tak ada ucapan belasungkawa.”
Titah tak tertulis, bergema tanpa suara.
Di luar ruangan, para pengikut berdiri gemetar,
Menatap nanar pada rumah duka yang pudar.
Mereka ingin berbisik sabar,
ingin mengulurkan tangan,
Namun rasa takut telah merantai setiap nurani dan langkah kaki.
“Jika aku berduka, aku akan dianggap durhaka,”
Begitu bisik ketakutan yang merayap di dada mereka.
Maka mereka pun memilih bungkam, ikut-ikutan buta,
Menelan empati demi selamat dari murka sang penguasa.
Sebuah kematian berlalu dalam sepi,
Bukan karena tak ada yang merasa kehilangan,
Melainkan karena benci menjelma penjara,
Bagi ribuan jiwa yang kehilangan keberanian.
Halaman
1 2
