Kemiripan konteks ini membuat saya teringat buku Seno Gumira Ajidarma ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’.

Di tengah kekhawatiran masyarakat akan terbatasnya kebebasan berpendapat dan berekspresi, beliau memberikan teladan mengenai bagaimana cara berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat melalui medium sastra.

Kritik sosial-politik yang disampaikan terdengar sederhana, artistik, namun tetap substantif tanpa memantik kericuhan. Pesan-pesan yang disampaikan pun sarat nilai edukasi dan etika publik yang bisa menjadi bahan perenungan bersama.

Buku ‘Buk Geriul’ ini cukup berbeda dengan karya sebelumnya, ‘Pembulak’, karena diselipi cerpen bernuansa Islami seperti ‘Ambruknya Langgar Kampung Kami’, ‘Mendadak ke Masjid’, ‘Lelaki Pencari Surga’, dan lain-lainnya.

Bahkan ada satu cerpen berjudul ‘Pengarang Kehidupan’ yang mengisahkan kehidupan dan akhir hayat cerpenis terkenal. Memberikan kesan kesedihan krisis eksistensialisme kepada pembaca. Pengaruh sosial dan ketenaran tiada artinya bila ajal telah menjemput.

Baca Juga  Kirab Pemilu 2024 Tiba di Pangkalpinang, Bakal Keliling di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Akhir kata, semoga buku ‘Buk Geriul’ bisa menjangkau khalayak luas dan dapat dinikmati semua kalangan. Bukan begitu, ngehanak?