Oleh: dr Faturrachman

“Ku nek mesen hikok untuk dibace dan di-review”, ujarku pada kolom komentar Facebook Rusmin Sopian, cerpenis produktif asal Toboali. Tampak postingan gambar sampul buku teranyar beliau yang berjudul ‘Buk Geriul’. Sampulnya berwarna coklat gelap, dengan karikatur seorang kakek berpakaian batik Jawa yang menjulurkan lidah panjang bercabang dua mirip ular.

Apa itu Buk Geriul? Sejauh yang saya pahami sebagai orang Toboali, Buk diambil dari kata abuk yang berarti kakek. Sementara itu kata Geriul, tidak pernah saya dengar sebelumnya. Terdengar seperti ‘ngalor-ngidul’. Berbicara panjang lebar, namun minim konsistensi dan kebenaran.

Apakah asumsi saya benar? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Silakan googling arti kata ‘geriul’. Semua situs di internet mengarahkan referensinya ke buku cerpen ini. Tidak ada karya lain yang memuat kata serupa.

Baca Juga  Bila Babu Lahirkan Tuan

Kreativitas Rusmin Sopian dalam mengolah kosakata Melayu Toboali ini bagaikan peribahasa ‘sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui’. Kearifan kosakata lokal bisa terhindar dari kepunahan, sekaligus membuat cerpen menjadi lebih otentik. Saking khasnya, saya yakin Artificial Intelligence (AI) tidak bisa meniru gaya penulisan dan nuansa cerpen ala beliau. Kecil kemungkinan ChatGPT menghasilkan nama orang seperti Matbengel, Matsudel, Matganak, dan Mang Kudut.

Buku ‘Buk Geriul’ Ini memuat 15 cerpen bertema politik, sosial, hingga agama dalam 119 halaman. Beberapa cerita bahkan menggiring imajinasi pembaca pada peristiwa dan tingkah laku politisi di dunia nyata, meskipun semua orang tahu bila cerita-cerita ini hanya fiksi belaka.

Baca Juga  Refleksi Kemerdekaan