Setiap gerakan dalam tari menggambarkan kelembutan budi, keteguhan jiwa, dan nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.

Melalui harmoni gerak yang anggun dan penuh penghayatan, tari Kies Penganten menuturkan perjalanan batin perempuan Melayu, dari seorang gadis menuju sosok istri yang bersinar bukan hanya karena kecantikan rupa, tetapi juga karena kekuatan nilai adat dan keindahan jiwa.

Pertunjukan ini ditata dengan apik oleh Hertanto Santoso sebagai penata tari dan Hesti Kumalasari sebagai penata musik, yang berhasil menghadirkan suasana sakral sekaligus emosional dalam setiap alur pertunjukan.

Sorotan utama dalam pertunjukan ini tertuju kepada Maharani, penari berusia 14 tahun yang saat ini menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Toboali.

Baca Juga  Wujudkan Basel Zero Stunting, Pemkab Libatkan OPD Jadi Orang Tua Asuh

Maharani sukses memerankan tokoh utama sebagai Mak Inang dalam tari Kies Penganten. Penghayatan karakter, ekspresi, serta pembawaan gerak yang ditampilkan mampu menghidupkan suasana sakral hingga menyentuh perhatian para penonton yang hadir.

Menariknya, mayoritas penari dalam pertunjukan tersebut masih berusia muda. Selain Maharani, terdapat sembilan penari lainnya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Bahkan dua penari lainnya, yakni Khayla Adinda dan Fiona Angelina, masih duduk di kelas 3 SD Negeri 6 Toboali.

Ketua Sanggar Seni Yuwaraja, Reve, S.Pd., mengatakan bahwa keterlibatan anak-anak dan remaja dalam pertunjukan budaya ini diharapkan mampu menjadi motivasi sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mengenal, mencintai, mempelajari, dan melestarikan kesenian daerah.

Baca Juga  Breaking News: 2 Unit PC Bersama Pemilik TI Tertimbun Longsor di Kawasan Tambang Desa Kepoh

“Semoga ini menjadi motivasi dan inspirasi untuk anak-anak muda seusia mereka agar lebih tertarik mengenal, belajar, dan melestarikan kesenian serta kebudayaan yang kita miliki, salah satunya tarian daerah. Dimulai dari sekarang dan di usia mereka, kita harus mulai memupuk rasa ingin tahu dan rasa cinta terhadap kesenian dan kebudayaan daerah,” ujar Reve.

Partisipasi Sanggar Seni Yuwaraja dalam Festival Budaya Napak Sire 2026 menjadi bukti bahwa generasi muda Bangka Selatan memiliki potensi besar dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya Melayu melalui seni pertunjukan yang berakar pada nilai adat dan tradisi luhur masyarakat.***