“Untuk tahap awal ada 52 orang yang kami fasilitasi. Mereka mendapatkan perlindungan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) tanpa dipungut biaya,” kata Agus.

Program stimulan ini, lanjut Agus, bukan sekadar bagi-bagi kartu gratis. Ini adalah stimulus penting untuk membangun kesadaran kolektif kaum pekerja non-formal di Bangka Barat akan vitalnya jaminan sosial bagi masa depan keluarga mereka.

Momentum penyerahan kartu BPJS ini kian bermakna dengan dideklarasikannya Paguyuban Wira Bhakti Nusantara Kabupaten Bangka Barat. Organisasi ini dirancang khusus menjadi rumah bersama bagi para pekerja informal yang selama ini kerap berjalan sendiri-sendiri.

Agus menjelaskan, paguyuban ini lahir dari kebutuhan mendesak akan ruang koordinasi, penguatan solidaritas, dan wadah penyalur aspirasi kaum marginal.

Baca Juga  Targetkan KLA Kategori Nindya di Tahun 2024, Ini Upaya yang Dilakukan DP2KBP3A Babar

“Paguyuban ini diharapkan menjadi tempat komunikasi dan musyawarah anggota dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” urai Agus.

Melalui wadah ini, komunikasi antar-pekerja diharapkan berjalan lebih bertenaga. Selain menjadi benteng perlindungan sosial mandiri, paguyuban ini juga berkomitmen menyelaraskan langkah dengan kebijakan daerah demi mendongkrak kesejahteraan masyarakat bawah.

Kini, dengan kartu BPJS Ketenagakerjaan di saku mereka dan paguyuban yang menaungi, para pekerja informal di Mentok tidak lagi sekadar bertahan hidup, melainkan melangkah bekerja dengan rasa aman.