Mengenal Tradisi Ziarah Kute Seribu di Mentok, Ritual Doa untuk Tokoh Agama dan Pemimpin Masa Silam
Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman mengucapkan rasa syukur yang sebesar-besarnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Alhamdulillah dan syukur kita panjatkan kehadirat allah swt atas ridho dan karunia-Nya pada hari ini dapat berkumpul guna menghadiri acara Ziarah Kute Seribu. Bertepatan dengan hari ke 4 Iduladha,” ungkapnya.
Ia mengatakan, Ziarah Kute Seribu ini bertujuan untuk mendoakan Habib Hamid bin Abdurahman Assegaf. Habib Hud bin Muhammad Assegaf, dan Habib Syatho, para tokoh agama islam, para pendiri Kota Mentok, kepala pemerintahan Pulau Bangka di masa silam yang bermakam di sini.
“Dalam ajaran islam, ziarah kubur adalah hal yang baik dilakukan, guna mendoakan almarhum dan mengenang amal ibadahnya untuk diikuti sebagai suri tauladan dalam ibadah dan kepemimpinanya. Ziarah Kute Seribu ini diawali pembacaan doa arwah dengan cara membaca surah yasin, tahlil dan doa secara berjamaah serta didalamnya disampaikan tausiyah agama, yang mana didalamnya terkandung da’wah dan syiar agama islam,” katanya.
Pemerintah daerah memasukkan kegiatan Ziarah Kute Seribu ini sebagai salah satu ritus dalam objek pemajuan kebudayaan di bangka barat yang patut dilestarikan. Acara ziarah ini menjadi ajang silaturahmi antara umaro dengan ulama dan umat islam di dalam dan di luar Kota Mentok khususnya jemaah dari Palembang.
“Pada tahun 2026 ini, pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memberikan dukungan dengan alokasi anggaran sebesar Rp20.000.000,” jelasnya.
