Penulis: Adithiya Saputra, Irza Rinaldi, Nanda Hamzah F. Nasution, Rajib Almagribi, dan Surya Teguh

Di tengah persaingan usaha kuliner yang semakin ketat, akses terhadap pembiayaan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi pelaku usaha dengan skala modal terbatas, kemampuan memperoleh dan mengelola sumber pembiayaan secara efektif dapat menjadi penentu keberhasilan usaha. Kondisi tersebut terlihat pada UMKM Bakso Tahu Ibu Lisda yang berlokasi di depan Gedung Nasional Toboali, Kabupaten Bangka Selatan.

Usaha yang berdiri sejak tahun 2024 ini menawarkan berbagai makanan ringan dengan produk utama berupa bakso tahu yang dijual seharga Rp5.000 per porsi. Selain bakso tahu, usaha tersebut juga menyediakan sate telur puyuh, telur rebus, sosis, serta berbagai minuman dingin dengan harga yang terjangkau. Strategi harga yang murah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan membantu usaha ini mempertahankan pelanggan di tengah banyaknya pilihan usaha kuliner sejenis.

Keberhasilan usaha Bakso Tahu Ibu Lisda dalam bertahan hingga saat ini tidak terlepas dari dukungan pembiayaan yang diperoleh sejak awal usaha berdiri. Modal awal usaha berasal dari dana pribadi sebesar Rp600.000 yang digunakan untuk membeli berbagai kebutuhan operasional seperti bahan baku, perlengkapan usaha, dan perlengkapan pendukung lainnya. Selain itu, keluarga juga memberikan bantuan berupa peralatan usaha yang membantu mengurangi kebutuhan investasi awal.

Baca Juga  Keluarga, Pondasi Utama Pembentukan Karakter dan Kebahagiaan

Tidak hanya mengandalkan modal pribadi, usaha ini juga memperoleh bantuan hibah UMKM dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan yang disalurkan melalui Bank Sumsel Babel sebesar Rp1.000.000. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pengembangan usaha mikro agar mampu bertahan dan berkembang tanpa harus terbebani oleh pinjaman berbunga. Kehadiran dana hibah tersebut memberikan tambahan modal kerja yang sangat berarti bagi usaha yang masih berada pada tahap awal pengembangan.

Dalam praktiknya, pengelolaan pembiayaan dilakukan secara sederhana namun cukup efektif. Modal yang tersedia difokuskan untuk memenuhi kebutuhan operasional harian seperti pembelian ikan giling, tahu, tepung terigu, minyak goreng, telur puyuh, serta berbagai bahan pendukung lainnya. Sebagian dana juga disisihkan sebagai cadangan operasional untuk mengantisipasi kebutuhan mendadak yang mungkin muncul selama kegiatan usaha berlangsung.

Baca Juga  Paradoks “Makan Bergizi Gratis”: Saat Piring Anak Terisi, Mengapa Dapur Ibu Menjerit?

Meskipun masih berskala mikro, pelaku usaha telah menerapkan pencatatan keuangan secara rutin menggunakan buku tulis dan kalkulator. Melalui pencatatan tersebut, pemilik usaha dapat mengetahui jumlah pemasukan, pengeluaran, dan keuntungan yang diperoleh setiap hari. Walaupun sistem pencatatan ini masih tergolong sederhana, langkah tersebut menunjukkan adanya kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan dalam menjaga stabilitas usaha.

Peran bantuan pemerintah dalam perkembangan usaha Bakso Tahu Ibu Lisda sangat terlihat pada penguatan modal kerja. Berbeda dengan pinjaman usaha yang mengharuskan pelaku usaha membayar bunga dan cicilan, dana hibah memberikan keleluasaan bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan modal tanpa menambah beban keuangan. Kondisi ini memungkinkan usaha untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas produk dan pelayanan kepada konsumen.

Di sisi lain, modal pribadi juga memiliki peranan yang tidak kalah penting. Dana pribadi menjadi bukti komitmen pemilik usaha dalam membangun dan mempertahankan usahanya. Kombinasi antara modal pribadi dan bantuan hibah pemerintah menciptakan struktur pembiayaan yang relatif sehat karena tidak menimbulkan kewajiban pembayaran utang. Dengan kondisi tersebut, usaha dapat berkembang secara lebih stabil dan memiliki risiko keuangan yang lebih rendah dibandingkan usaha yang bergantung pada kredit komersial.

Baca Juga  Strategi Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Tekanan Akademik dan Sosial

Tambahan modal yang tersedia juga memungkinkan usaha melakukan diversifikasi produk. Selain menjual bakso tahu sebagai produk utama, usaha ini mampu menyediakan berbagai menu tambahan seperti sate telur puyuh, sosis, telur rebus, dan aneka minuman dingin yang membantu meningkatkan daya tarik usaha di mata konsumen. Keberagaman produk tersebut menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan sekaligus mempertahankan loyalitas pelanggan.

Meski demikian, usaha Bakso Tahu Ibu Lisda masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan pembiayaan. Fluktuasi harga bahan baku menjadi kendala utama yang sering memengaruhi kondisi keuangan usaha. Kenaikan harga ikan giling, tepung terigu, minyak goreng, dan bahan baku lainnya menyebabkan biaya produksi meningkat sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih kecil. Selain itu, dampak inflasi juga turut mendorong kenaikan biaya operasional yang harus ditanggung pelaku usaha.