“Kecamatan harus aktif sebagai koordinator wilayah, puskesmas memperkuat layanan kesehatan dan gizi, sementara PLKB dan Tim Pendamping Keluarga melakukan pendampingan serta pemantauan terhadap keluarga sasaran secara berkelanjutan,” ujar Khairil.

Desa Buding Jadi Contoh Keberhasilan

Di tengah tantangan tersebut, dipaparkan bahwa sejumlah desa menunjukkan capaian yang menggembirakan dalam upaya menekan angka stunting.

“Desa Buding menjadi desa dengan prevalensi stunting terendah di Kabupaten Beltim yakni hanya 1,20 persen. Disusul Desa Lalang Jaya sebesar 2,09 persen dan Desa Kurnia Jaya sebesar 2,28 persen,” tambah Khairil.
Mantan Camat Dendang ini juga meminta seluruh anggota TPPS untuk terus memperbaiki kualitas data sebagai dasar pengambilan kebijakan dan pelaksanaan program di lapangan.

Baca Juga  Menembus Batas: Kisah Ericko, Anak Penjaga Sekolah di Bangka Selatan yang Lolos Biokimia IPB

“Data yang akurat dan mutakhir sangat penting agar program dan intervensi yang dilakukan benar-benar tepat sasaran dan memberikan hasil yang optimal,” pinta Khairil.
Keberhasilan desa-desa tersebut dinilai menjadi contoh bahwa penanganan stunting dapat dilakukan secara efektif apabila intervensi kesehatan, pendampingan keluarga, serta dukungan pemerintah desa berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.

Melalui rapat koordinasi ini, Pemerintah Kabupaten Beltim berharap seluruh pemangku kepentingan dapat memperkuat sinergi dan menghadirkan langkah-langkah konkret agar target percepatan penurunan stunting dapat tercapai serta kualitas generasi masa depan Beltim semakin baik. @2!