Krisis regenerasi lada Bangka pada dasarnya merupakan hasil dari interaksi antara faktor ekonomi, sosial, dan kebijakan. Pergeseran pilihan petani menunjukkan adanya respons rasional terhadap kondisi yang mereka hadapi, sementara di sisi lain kebijakan yang ada masih membutuhkan penyesuaian agar lebih adaptif terhadap perubahan tersebut. Oleh karena itu, masa depan lada Bangka tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga oleh kemampuan kebijakan dalam menciptakan kondisi yang membuat komoditas ini tetap relevan dan layak secara ekonomi bagi petani dalam jangka panjang.

Referensi:

Andaka, R. (2023). Analisis ekspor lada putih (Muntok White Pepper) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Skripsi, Universitas Bangka Belitung). Repository Universitas Bangka Belitung.

Baca Juga  Pemimpin dan Pembisik

Aprionis. (2024). Produksi lada putih Babel turun jadi 6.000 ton. ANTARA News Bangka Belitung.

Aprionis. (2024). Ekspor lada putih Bangka Belitung naik jadi 4.000 ton. ANTARA News Bangka Belitung.

Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada (BP3L). (2024). Lada Putih Muntok sebagai produk indikasi geografis dan tantangan pengembangannya. BP3L Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada (BP3L). (2024). Laporan perkembangan produksi dan ekspor lada putih Bangka Belitung tahun 2023. BP3L Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (2025). Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam angka 2025. BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Balai Karantina Pertanian Pangkalpinang. (2023). Laporan lalu lintas dan ekspor komoditas pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2023. Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Baca Juga  Sawah Tanpa Pewaris: Krisis Regenerasi Petani dan Masa Depan Pangan Indonesia

Kasmono. (2024). Produksi lada Belitung menurun sepanjang 2023. ANTARA News.

Saptarini, D., dkk. (2023). Analisis daya saing dan perkembangan ekspor lada putih Bangka Belitung di pasar internasional. Jurnal Agribisnis Indonesia, 11(2), 145–158.