Oleh: Anggun Murniati Siregar – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Selain timah, lada atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai sahang masih menjadi identitas utama daerah ini. Selama puluhan tahun, Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu sentra produksi lada putih terbesar di Indonesia. Komoditas ini tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian daerah, tetapi juga membawa nama Bangka Belitung ke pasar internasional melalui produk lada putih yang dikenal sebagai Muntok White Pepper yang menjadi daya saing komoditas perkebunan daerah di tingkat global.

Namun, dalam satu dekade terakhir, kejayaan tersebut menunjukkan tanda-tanda penurunan yang cukup serius. Data ekspor lada putih Bangka Belitung memperlihatkan tren fluktuatif dengan kecenderungan menurun. Berdasarkan berbagai data BPS (Badan Pusat Statistik) dan laporan perdagangan daerah, volume ekspor tercatat sebagai berikut:

  • 2017: ±1,83 juta kg
  • 2018: ±1,50–1,70 juta kg (fluktuatif)
  • 2019: ±1,68 juta kg (ke Amerika Serikat), namun mulai menurun di pasar lain
  • 2020: ±3.000–4.000 ton (lonjakan tidak stabil akibat stok dan harga global)
  • 2023: ±308 ribu kg ke beberapa negara utama (turun tajam dari periode sebelumnya)
  • 2025: ±1,37 ribu ton total ekspor dengan nilai sekitar Rp180 miliar
Baca Juga  Pulau Kelapan: Mutiara Terancam di Balik Narasi Indah dan Potensi Taktergali

Sumber: (Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2025; BP3L Bangka Belitung, 2024; Balai Karantina Pertanian, 2023; Saptarini et.al, 2023)

Jika dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya, kondisi ini menunjukkan bahwa lada Bangka tidak lagi mengalami pertumbuhan, melainkan sudah memasuki kondisi tidak berkembang, bahkan cenderung mengalami penurunan yang bersifat struktural, yang mengindikasikan adanya perubahan mendasar dalam sistem produksi dan daya saing komoditas tersebut.

Di tingkat petani, perubahan ini terlihat semakin jelas. Banyak petani di Bangka Belitung mulai mengalihkan lahan lada ke komoditas lain seperti kelapa sawit, karet, bahkan tambang rakyat. Pergeseran ini bukan sekadar tren, tetapi merupakan keputusan ekonomi yang lahir dari ketidakpastian pendapatan dari lada.

Faktor utama yang mendorong peralihan ini antara lain harga lada yang tidak stabil, biaya produksi yang tinggi, serangan hama, serta waktu panen yang relatif panjang. Dalam kondisi ini, lada tidak lagi dianggap sebagai komoditas yang mampu menjamin keberlanjutan ekonomi rumah tangga petani. Akibatnya, regenerasi petani juga semakin menurun. Para petani kuda enggan melanjutkan usaha tani lada karena dianggap tidak kompetitif dibanding sektor lain. Fenomena ini memperlihatkan adanya krisis regenerasi petani lada. Keberlanjutan komoditas tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga oleh minat dan keberlanjutan sumber daya manusia di sektor pertanian.

Baca Juga  E-Court sebagai Wujud Modernisasi Peradilan di Indonesia

Krisis lada Bangka tidak hanya berkaitan dengan faktor produksi, tetapi juga dinamika adaptasi di tingkat petani terhadap berbagai bentuk dukungan yang telah diberikan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah maupun pusat sebenarnya telah menjalankan berbagai program pengembangan lada, seperti bantuan bibit. Namun, efektivitas program tersebut di lapangan masih sangat bergantung pada respons dan keberlanjutan partisipasi petani itu sendiri.

Di sisi lain, perubahan kondisi ekonomi dan terbukanya peluang pada sektor komoditas lain membuat sebagian petani mulai melakukan diversifikasi usaha. Hal ini tidak selalu berkaitan dengan kurangnya perhatian terhadap lada, tetapi lebih pada pertimbangan rasional petani dalam menghadapi risiko usaha tani, terutama terkait fluktuasi harga, biaya perawatan, serta waktu produksi yang relatif panjang. Akibatnya, meskipun berbagai upaya penguatan sudah dilakukan, daya tarik lada sebagai komoditas utama perlahan mengalami penurunan di tingkat generasi petani.

Baca Juga  Ironi Kebun Sawit: Negara Raup Untung, Petani Buntung

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lada Bangka tidak bisa hanya dilihat sebagai penurunan produksi semata, tetapi juga sebagai proses perubahan struktur ekonomi pedesaan yang lebih luas. Dalam situasi ini, petani tidak lagi berada dalam posisi pasif, melainkan mengambil keputusan ekonomi berdasarkan perhitungan rasional terhadap keberlanjutan pendapatan rumah tangga mereka.

Selain itu, keberadaan sektor komoditas lain yang lebih cepat memberikan hasil turut memengaruhi pilihan petani dalam mengalokasikan lahan dan tenaga kerja. Dalam konteks ini, kebijakan pembangunan pertanian tidak hanya berhadapan dengan isu peningkatan produksi, tetapi juga dengan kompetisi antar komoditas di tingkat lokal. Tanpa adanya penguatan insentif ekonomi yang lebih jelas dan berkelanjutan, komoditas seperti lada akan terus berada dalam posisi yang kurang menarik bagi sebagian petani, terutama generasi muda.

Jika dilihat lebih jauh, hal ini mengindikasikan bahwa tantangan utama bukan hanya pada aspek teknis budidaya, tetapi juga pada bagaimana kebijakan mampu menciptakan ekosistem usaha tani yang lebih stabil dan kompetitif. Regenerasi petani pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari sejauh mana negara hadir dalam memastikan keberlanjutan ekonomi sektor pertanian secara menyeluruh.