Secangkir Kopi Bersama Peri Sandi Huizche: Sang Maestro ‘Mata Luka Sengkon Karta’ di Tanah Bangka
Namun fokus kami satu: bagaimana memajukan literasi di Bangka Belitung.
Dalam diskusi itu, saya mengajak Kang Peri untuk meluangkan waktunya kembali ke Bangka Belitung tepatnya di Bangka Selatan.
Saya memintanya untuk membaca puisi pada kegiatan literasi di Bangka Selatan.
Responsnya? Luar biasa dan tegas.
“Siap,” ujarnya.
Jika saja siang ini, Sabtu (6/6/2026), Kang Peri tidak harus segera terbang kembali ke Jakarta, saya ingin mengajaknya ke Bangka Selatan.
Tujuan tentu Simpang Lima Toboali. Saya ingin mempertemukan sang penyair Mata Luka Sengkon Karta ini dengan para pegiat literasi lokal Bangka Selatan.
Namun Kang Peri Sandi Huizche harus kembali ke kotanya.
Tetapi janji satu kata “siap” yang diucapkannya tadi, akan selalu bergema dan menjadi harapan baru bagi masa depan literasi khususnya di Negeri Junjung Besaoh.
