Aroma Jogja 1994
Jika Kau izinkan,
liukkan waktu hanya untukku,
seiris saja tak mengapa.
Agar rindu yang hinggap ini
mengendap lekat dalam memori.
Sang raja tersenyum kala bersabda,
tiada hardik pada wong cilik.
Langkah tenangnya adalah wibawa,
bukan hentakan kaki jumawa.
Aku benar-benar terjerat
pada aroma pagi yang kini lenyap sekarat,
digerogoti asap timbal yang kian pekat.
Jogja …
Kurindu embusanmu.
Kuserap sunyimu
untuk sekadar mengisi ulang
pikiran dan hati yang berjejal persoalan.
Jogja … rona aroma cinta.
Toboali, 13 Juni 2026
Halaman
1 2
