Oleh: Indra Pirmana

Aku tatap wajahmu penuh
dusta,
mulut manismu membalas kata cinta, hati busukmu tidak selaras dengan ucapanmu.
Tuhan …
Aku tidak punya kuasa
aku hanya punya cinta,
dan cinta tidak bisa dipaksa.
Penuh harap, perlahan cintanya membuka.
Namun,
Bukan untuk aku melainkan untuk kekasih gelapmu.
Remuk rasanya hatiku, saat angin malam membawa kabar busuk tentangmu,
cinta aku yang tulus kau balas sandiwara.
Aku coba perlahan buka mata hatimu.
Tetapi, aku punya batas sabar.
Aku lelaki punya rasa.
Aku lelaki tidak berkuasa.
Aku lelaki bukan buaya.
Aku selalu menjaga cinta.
Tuhan …
Seandainya dia miliku,
satukanlah walau hanya mimpi.
Cinta yang aku pupuk dengan kejujuran
Kini kau balas cinta dengan tabir kepalsuan.

Baca Juga  Ruang Kosong di Meja Makan