Membuka Mata Nalar: Menakar Fanatisme dalam Timbangan Sosial dan Islam
Dampak dari fanatisme buta ini sangat mengerikan bagi eksistensi spiritual seorang Muslim. Rasulullah saw bahkan melepaskan diri dari orang-orang yang memelihara penyakit mental ini dalam hidupnya. Beliau bersabda dengan nada yang sangat tegas:
“Bukan termasuk golongan kami orang yang mengajak kepada ashabiyah, bukan termasuk golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan bukan termasuk golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.” (HR. Abu Dawud).
Kalimat “bukan termasuk golongan kami” merupakan peringatan keras (zajr) bahwa fanatisme buta adalah perilaku yang keluar dari jalur kemuliaan Islam. Islam menuntut umatnya untuk menjadi saksi yang adil bagi seluruh alam tanpa pandang bulu. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“…Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Titik Temu: Fanatisme sebagai Produk Kemalasan Berpikir
Sains sosial dan teologi Islam bertemu pada satu titik kesimpulan: fanatisme buta adalah produk dari kemalasan berpikir. Orang yang fanatik secara buta biasanya enggan meneliti fakta secara mandiri (tabayyun) dan lebih memilih membebek pada narasi kelompoknya.
Al-Qur’an sendiri berulang kali mengecam kaum terdahulu yang melakukan taklid buta (ikut-ikutan tanpa ilmu) hanya karena alasan warisan golongan atau nenek moyang:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?'” (QS. Al-Baqarah: 170).
Kesimpulan: Istiqamah Bukan Berarti Buta
Sebagai penutup, kita harus mampu membedakan antara keteguhan iman (istiqamah) dan fanatisme buta (ta’ashub). Istiqamah dibangun di atas ilmu, argumen yang kukuh, kesadaran intelektual, dan kesiapan untuk menegakkan keadilan—bahkan jika itu merugikan kelompok sendiri. Sementara fanatisme buta dibangun di atas ego, ketakutan, dan kerapuhan mental.
Menjadi seorang Muslim yang baik atau warga negara yang bijak berarti berani berkata “benar” pada apa yang benar, dan berkata “salah” pada apa yang salah, tanpa peduli baju kelompok apa yang sedang mereka kenakan.
“Kebenaran tidak dikenal lurus karena manusia yang membawakannya. Kenalilah kebenaran itu sendiri, maka kamu akan mengenal siapa orang-orang yang benar.”
— Sayyidina Ali bin Abi Thalib–
