Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi

Manusia adalah makhluk komunal yang secara alami selalu mencari kelompok demi mendapatkan identitas dan rasa aman. Dalam sosiologi, dorongan ini melahirkan loyalitas kelompok. Memiliki rasa cinta, bangga, dan keterikatan terhadap suatu pemikiran, mazhab, suku, ataupun partai politik adalah hal yang manusiawi.
Namun, batas antara loyalitas sehat dan kehancuran moral sangatlah tipis. Batas itu bernama fanatisme buta. Ketika kecintaan terhadap kelompok menuntut matinya akal sehat dan nalar kritis, di situlah fanatisme berubah menjadi racun yang merusak tatanan sosial sekaligus mencederai nilai luhur agama.

“Fanatisme adalah menggandakan usaha Anda ketika Anda telah melupakan tujuan Anda.”
— George Santayana

Baca Juga  Di Tepi Samudera Kebenaran: Menakar Reputasi dalam Timbangan Ilahi

Sisi Sosial: Ruang Gema dan Matinya Nalar Kritis

Secara sosial, fenomena fanatisme buta hari ini semakin subur akibat algoritma media sosial yang menciptakan ruang gema (echo chamber). Kita cenderung hanya mengonsumsi informasi yang mendukung bias kelompok kita, seraya memandang kelompok lain sebagai musuh absolut. Pola pikir ego sektoral “us vs them” (kita melawan mereka) ini melahirkan masyarakat yang sumbu pendek.
Kebenaran tidak lagi dinilai berdasarkan fakta objektif, melainkan dari siapa yang mengatakannya. Jika yang berbicara adalah idola atau ketua kelompoknya, maka kesalahan fatal pun akan dibela mati-matian. Sebaliknya, kebenaran dari pihak luar akan ditolak mentah-mentah.

“Ciri dari fanatisme buta adalah ketidakmampuan untuk memahami bahwa orang lain bisa saja benar, dan kita bisa saja salah.”

Baca Juga  Di Mana Orang-Orang Baik Bersembunyi?

Pandangan Islam: Meluruskan Loyalitas, Menolak Ashabiyah

Islam hadir untuk mendobrak kebebalan berpikir semacam ini. Di masa jahiliyah, masyarakat Arab sangat kental dengan ashabiyah—yaitu fanatisme kesukuan yang membabi buta. Islam datang bukan untuk menghapus rasa cinta pada kaum sendiri, melainkan untuk meluruskan tujuannya agar selalu berpijak pada moralitas.
Batasan tegas ini terekam jelas dalam sebuah dialog antara sahabat Watsilah bin Al-Asqa’ dan Nabi Muhammad saw:

“Aku bertanya kepada Rasulullah saw: ‘Wahai Rasulullah, apakah termasuk ashabiyah (fanatik golongan) jika seseorang mencintai kaumnya?’ Nabi menjawab: ‘Tidak demikian, namun ashabiyah itu adalah ketika dia membela kaumnya di atas kezaliman.’” (HR. Ahmad & Abu Dawud).

Baca Juga  Menjemput Fajar Peradaban Baru: Melampaui Hegemoni, Zionisme dan Egoisme 'Strongman'

Hadis ini menjadi hantaman argumentatif yang telak. Islam menegaskan bahwa indikator utama dalam membela sesuatu adalah keadilan dan kebenaran, bukan kesamaan identitas. Ketika kita membela rekan separtai yang korupsi, menyembunyikan kesalahan guru agama yang melanggar hukum, atau membenarkan kekerasan kelompok kita atas nama solidaritas, kita telah terjatuh ke dalam jurang ashabiyah yang diharamkan.

Konsekuensi Spiritual bagi Para Pemuja Golongan