Secara kompak pria-pria di pos kamling menjawab seperti dikomandoi.

“Saya curiga mobil-mobil besar itulah yang menjadi aktor hilangnya anak-anak di desa kita.”

Pria-pria di pos kamling mulai serius mendengarkan asumsi dari informan itu. Mereka mulai mengaktifkan otaknya, berpikir keras untuk mengkorelasikan antara peristiwa anak yang hilang dengan beberapa mobil besar yang sering lewat di desa mereka.

“Coba kalian perhatikan dan Analisa, setiap mobil-mobil itu melalui desa kita, pasti ada korban.”

Sang informan berusaha terus meyakinkan pria-pria tersebut.

“Betul juga ya.”

Salah seorang pria berwajah mulus menimpali, membuat pria lainnya mulai terbawa dengan argument sang informan.

Diiringi dengan anggukan dari pria-pria lain, akhirnya mereka mengambil suatu kesimpulan bahwa mobil-mobil besar yang melewati desa mereka itulah penyebab utama teror di desa mereka.

“Kita harus segera bertindak, jangan sampai ada korban lagi.”

*****

Kabar tentang mobil-mobil besar dengan kepala menjulur ke depan menjadi penyebab hilangnya anak-anak di desa itu begitu cepat menyebar. Tidak diketahui siapa yang memviralkannya. Hebohnya berita tersebut membuat suasana desa semakin mencekam, apalagi pada malam hari. Jika dulu sebelum magrib semua warga terutama anakan-anak harus sudah berada di rumah, sekarang bahkan setelah asar suasana desa sudah sunyi.

Sang kepala desa dibuat semakin pusing apalagi sekarang semua warga sudah menyalahkannya karena tidak becus mengurus keamanan desa. Masyarakat sudah terbelah menyikapi fenomena yang sedang terjadi. Ada yang masih percaya dengan kepala desa dan ada yang sudah tidak percaya lagi. Bagi yang percaya mereka terus memberikan dukungan dan yakin sang kepala desa mampu menyelesaikan kasus ini, tapi bagi yang sudah tidak percaya mulai menggaungkan mosi untuk melengserkan sang kepala desa atau jika tidak bisa melengserkan mereka mengajak masyarakat lain untuk tidak memilihnya ketika pencalonan berikutnya.

Baca Juga  Rezeki

“Bagaimana ini Pak? sebagian besar masyarakat sudah tidak percaya dengan Bapak.”

“Iya bu, Bapak juga bingung.”

Percakapan sang kepala desa dengan istrinya itu menggambarkan bahwa sang kepala desa seolah sedang difitnah.

“Coba Bapak temui pemilik mobil-mobil besar itu, minta penjelasan.”

“Siapa tahu kita akan menemukan titik terang dari masalah ini.”

“oya…betul juga Bu, coba nanti malam bapak ke sana.”

Perbincangan pasangan suami istri itu terhenti karena dari luar terdengar ucapan salam. Dari kejauhan terlihat sosok seorang pria. Pria tersebut ternyata sang pejabat yang anaknya hilang.

“Bagaimana Pak Kades, sudah ada belum info tentang anak saya.”

Sang pejabat langsung menodong kepala desa dengan pertanyaan tanpa duduk terlebih dahulu.

“Kalau Pak Kades tidak bisa menemukan anak saya, khawatirnya nanti nama baik Pak Kades akan tercemar.”

“Sekarang saja nama Pak Kades sudah mulai memudar karena banyaknya masalah di desa ini.”

Sang pejabat terus berkhotbah dan terkesan mengintimidasi kepala desa.

“Ya Pak, kami perangkat desa masih berusaha menyibak tabir masalah di desa kita, mohon doanya agar kemelut ini segera sirna.”

“Baik Pak Kades, saya tunggu kabar bahagianya.”

“Saya permisi pulang dulu.”

Bagai hantu Jailangkung, sang pejabat itu pergi begitu saja meninggalkan pak kades dan istrinya. Sikap aneh itu membuat pak Kades dan istri bertanya-tanya dalam hati, kenapa ketika anak-anak yang lain hilang sang pejabat tidak seheboh seperti sekarang.

*****

Beberapa mobil besar yang sering disebut dengan mobil kepala buaya sudah tersusun rapi di sebuah tempat yang jauh dari perkampungan warga. Mobil-mobil itu sepertinya memang sudah disiapkan untuk menjalankan sebuah misi. Di sudut yang lain tampak beberapa pria yang merupakan sopir mobil tersebut masih santai dengan gelas-gelas kopi di hadapan mereka. Tampaknya mereka sedang menunggu perintah dari atasan mereka. Mereka terlihat santai sambil tertawa ringan. Namun mereka tidak menyadari dari kejauhan ada dua pasang mata sedang mengamati gerak-gerik mereka.

Baca Juga  Uang Logam

Keanehan terlihat ketika beberapa detik kemudian datang seorang pria yang sudah dikenal oleh dua pasang mata tadi. Pria yang baru datang tersebut adalah informan yang beberapa hari lalu membuat isu tentang hubungan antara mobil-mobil besar dan kasus hilangnya anak di desa tersebut.

“Malam ini kalian kembali beraksi, buat warga desa Dalpel bertambah takut, tanamkan lebih dalam lagi bahwa memang mobil-mobil besar ini penyebab masalah di desa tersebut.”

Kata-kata dari sang informan tersebut membuat orang yang mengintai dari kejauhan tersebut semakin terkejut. Pengintai tersebut mulai menemukan titik terang terkait persoalan hilangnya anak di desa mereka. Namun mereka masih penasaran siapa dalang sesungguhnya di balik semua ini, karena menurut keyakinan mereka pasti yang ada sekarang hanya kaki tangan yang mendapatkan perintah.

“Siaaap!”

Serentak para sopir tadi menjawab.

Setelah mendapatkan jawaban dari beberapa sopir yang merupakan anak buahnya, sang informan kemudian menelpon seseorang untuk melaporkan kepada bigbosnya.

“Rencana kita sudah berjalan sesuai dengan keinginan kita, Pak.”

“Anak Bapak yang kita buat seolah-olah hilang juga masih aman di persembunyiannya”

“Siap Pak!”

Setelah itu sang informan menutup percakapan mereka, dan berlalu menuju desa Dalpel untuk melanjutkan rencana mereka selanjutnya.

Dua orang pengintai yang ternyata anak buah kepala desa itu sungguh sangat terkejut. Mereka baru tahu bahwa dalang di balik semua karut marut masalah di desa mereka dibuat oleh sang pejabat.

“Kita harus melaporkan ini kepada pak kades”

*****

Pagi itu rumah sang pejabat sudah ramai oleh warga desa. Beberapa orang polisi sudah berada di rumah sang pejabat. Dan tidak beberapa lama keluar sang pejabat dan informan dengan tangan diborgol. Di saat semua menyangka hanya dua orang itu yang ditangkap, ternyata masih ada satu lagi seseorang keluar dengan tangan terborgol. Masyarakat bertambah terkejut karena yang keluar terakhir adalah anak sang pejabat yang selama ini dinyatakan hilang.

Baca Juga  Memandangi Mawar Merah

Polisi menangkap sang pejabat dan komplotannya berdasarkan laporan dua orang anak pak kades yang waktu itu mengintai aktivitas informan dan sopir mobil besar. Dari informan itulah didapat informasi bahwa sang pejabat sengaja membuat isu hilangnya anak-anak desa. Tujuannya adalah untuk menurunkan pamor sang kepala desa agar tidak dipercaya lagi oleh masyarakat dan pada pencalonan berikutnya tidak akan dipilih lagi oleh masyarakat. Jika hal itu berhasil maka ia akan memperkenalkan sang informan untuk menjadi calon kepala desa. Lebih mengejutkan lagi ternyata beberapa anak yang hilang itu sengaja dikurung di belakang rumahnya. Sedangkan anaknya yang dibilang hilang ternyata diinapkan di sebuah hotel mewah.

Dengan terbongkarnya sindikat peneror desa yang didalangi oleh sang pejabat, maka desa tersebut kembali tenang dan aman. Sebagian masyarakat yang dulunya membenci kepala desa meminta maaf dan kembali mendukung sang kepala desa.

“Terima kasih ya, berkat kalian semua ini bisa dipecahkan.”

Kepala desa menjabat tangan dua anak buahnya sambil menatap kepergian sang pejabat dan komplotan dibawa polisi menuju tahanan.

“Ini ambil untuk kalian.”

Sang kepala desa memberikan sebuah amplop coklat yang dulu diberikan oleh sang pejabat. Ternyata sang kepala desa masih menyimpan pemberian sang pejabat, ia tidak berani menggunakannya takut nanti diungkit oleh sang pejabat.

*****

BIONARASI PENULIS

Syabaharza adalah nama pena dari Syamsul Bahri Arza. Ia adalah Kepala MTs Al-Hidayah. Putra asli Pelabuhan Dalam Pemulutan ini sekarang berdiam di Desa Keposang Kecamatan Toboali Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Ia bisa dihubungi di [email protected]