Menghidupkan Kembali Roh Iqra: Mengapa Kita Malas Epistemik
Oleh: Sobirin Malian — Dosen Penggiat Literasi
Pada abad ke-7, di sebuah gua sunyi di pinggiran Makkah, sebuah revolusi mental terbesar dalam sejarah manusia dimulai. Kata pertama yang memecah keheningan itu bukanlah perintah untuk sujud, bukan pula seruan untuk mengangkat senjata. Kata itu adalah Iqra—Bacalah.
Genetika Iqra: Sebuah Revolusi Epistemologi di Gurun Pasir
Secara filosofis, peletakan batu pertama peradaban Islam ini merupakan sebuah revolusi epistemologi. Islam tidak memulainya dengan dogma buta, melainkan dengan ketukan keras pada gerbang kesadaran intelektual manusia.
Secara sosiologis, perintah ini hadir di tengah masyarakat Jahiliyah yang terfragmentasi oleh fanatisme kesukuan, tradisi lisan yang konservatif, dan ketergantungan pada mitologi. Nabi Muhammad saw. saat itu adalah seorang ummi—tidak bisa baca-tulis teks. Fakta ini justru mempertegas makna filosofis yang mendalam: Iqra bukan sekadar mengeja aksara di atas kertas.
Iqra adalah perintah untuk membaca realitas, merenungkan tanda-tanda alam, membongkar ketidakadilan sosial, dan menyaring kebenaran di tengahl kekacauan zaman. Wahyu pertama ini berhasil mengubah bangsa pengembala unta yang buta huruf menjadi pemimpin peradaban dunia yang menguasai sains, filsafat, dan teologi hanya dalam beberapa dekade. Dulu, ilmu adalah barang mewah yang harus ditebus dengan perjalanan berbulan-bulan melintasi gurun pasir yang mematikan.
Menatap Cermin Modernitas: Krisis Makna di Era Infobesity
Hari ini, bentang sosiologis itu telah berbalik arah secara dramatis. Kita hidup di era yang dikepung oleh kemudahan digital. Kitab-kitab klasik yang dulu harus dicari ke Baghdad atau Cordoba, kini tersimpan rapi dalam gawai di saku celana kita. Akses informasi menjadi begitu instan, murah, dan melimpah. Namun, di sinilah ironi terbesar abad ke-21 muncul: kemudahan akses tidak berbanding lurus dengan kedalaman berpikir. Masyarakat modern justru terjebak dalam penyakit baru yang disebut kemalasan epistemik (epistemic laziness).
Secara filosofis, kita sedang mengalami krisis makna akibat infobesity (banjir informasi). Kita membaca ribuan potong teks setiap hari melalui media sosial, tetapi kehilangan kemampuan untuk melakukan tadabbur (perenungan mendalam). Kita menjadi masyarakat yang “banyak membaca tapi sedikit memahami”.
Secara sosiologis, kemudahan teknologi justru memanjakan otak manusia untuk menjadi konsumen informasi yang pasif. Kita lebih betah menghabiskan waktu berjam-jam menonton video hiburan berdurasi singkat daripada meluangkan waktu tiga puluh menit untuk mengkaji sebuah bab dalam buku ilmiah.
Mengonfrontasi Kemalasan dengan Hadis “Kelas Atas”
Argumen ini menjadi sangat menyakitkan ketika kita mengonfrontasinya dengan teks-teks otoritatif keagamaan. Islam memiliki garis hukum yang sangat tegas dan tidak main-main soal ini. Rasulullah saw. bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).
