Menghidupkan Kembali Roh Iqra: Mengapa Kita Malas Epistemik
Status hadis ini berada di kelas tertinggi dalam otoritas hukum Islam—sebuah kefardhuan yang sejajar dengan ibadah mahdhah lainnya. Lebih dari itu, janji yang ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung: “Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Di sinilah letak dosa kultural manusia modern. Malas mencari ilmu di zaman Jahiliyah mungkin bisa dimaklumi karena keterbatasan sarana. Namun, malas mencari ilmu di zaman sekarang adalah sebuah kejahatan mental yang murni lahir dari kebebalan spiritual internal. Kita tidak lagi punya alasan “sulitnya akses”. Kitab sahih, kamus bahasa, hingga kuliah dari para pakar dunia kini gratis dan berjarak satu ketukan jari. Mengabaikan perintah wajib ini di tengah segala kemudahan sosiologis saat ini adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap akal yang telah dianugerahkan Tuhan.
Fenomena ini mengingatkan kita pada tamparan keras dari nasihat Imam Syafi’i yang sangat kontekstual dengan kemalasan hari ini:
“Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan.”
Malas Membaca, Rajin Menghakimi: Dampak Nyata di Ruang Publik
Dampak dari kemalasan ini sudah sangat nyata di ruang publik kita. Muncul fenomena sosiologis yang disebut Dunning-Kruger Effect: orang-orang yang malas membaca dan enggan mengkaji ilmu secara mendalam justru menjadi pihak yang paling vokal, paling merasa tahu, dan paling gemar menghakimi di media sosial. Mereka malas membedakan mana hadis sahih dan mana hoaks, tetapi sangat rajin berdebat di kolom komentar. Ini adalah antitesis total dari spirit Iqra.
Kesimpulan: Meredefinisi Iqra di Abad ke-21
Pada akhirnya, menghidupkan kembali roh Iqra di zaman sekarang berarti melakukan redefinisi atas cara kita memperlakukan informasi. Menuntut ilmu bukan lagi soal mengumpulkan data di memori gawai, melainkan soal disiplin mental untuk menyaring, merenungkan, dan mengamalkannya. Selama kita masih memelihara kemalasan untuk membaca dan mengkaji, maka selama itu pula kita sedang berjalan mundur menuju zaman Jahiliyah gaya baru—sebuah zaman di mana manusia modern dikepung oleh cahaya teknologi, namun jiwanya meraba-raba dalam kegelapan intelektual.
Sebagai penutup, mari kita renungkan apa yang pernah dikatakan oleh filsuf dan penulis asal Amerika Serikat, Alvin Toffler:
“Orang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan mereka yang tidak bisa belajar, tidak mau melupakan apa yang salah, dan menolak untuk belajar kembali (learn, unlearn, and relearn).”
