Menyelamatkan Ruang Hijau Bangka Belitung yang Kian Menyusut
Oleh: Hoide Lutpia Salsabila — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Koordinator: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., MP.
Penulis mau mengajak kalian semua buat menunduk sejenak. Kita hidup di tanah Melayu, lebih spesifik di Kepulauan Bangka Belitung, yang dulu hijau-nya minta ampun. Sekarang? Coba deh jalan‑jalan sedikit ke pinggiran kota, pasti yang keduluan tuh cuma hamparan lubang galian timah. Taman? Wah, sepertinya menurut penulis sudah sedikit langka.
Dulu, dulu loh, nenek‑nenek kita masih sering cerita kalau dulu ada banyak sekali “taman kota” tempat anak‑anak main bola, Ibu‑ibu duduk ngunjing, dan masak‑masak di bawa teduh pohon beringin. Angin sepoi‑sepoi, udara segar, nggak seperti sekarang yang cuma dapat asap sama debu. Nah, sekarang kita mulai ngerasain efeknya: cuaca jadi anjlok, panas hampir nggak tertolerir, dan penyakit seperti ISPA makin sering muncul.
Jadi jika ada yang bertanya-tanya kenapa taman hilang?
Jawabnya simpel: karena kita lebih ngutamain yang lain. Tambang timah, sama pembangunan yang tiba‑tiba numbuh kayak jamur nggak tau tempat. Kita terlena sama duit yang masuk, lupa bahwa hutan sama ruang hijau itu ibarat jantung kita kalau jantung berhenti, ya kita mati juga. Nah, sekarang kita baru sadar bahwa udaranya jadi bikin kesehatan jadi rebutan.
Nah, ini dia yang perlu kalian tau data-data yang ada buat kita sadar bahwa ini bukan cuman omong kosong.
Standar WHO menyatakan kalau setiap kota harus punya ruang terbuka hijau minimal 9 meter persegi per orang. Di Indonesia? Coba tebak. Berdasarkan data Kementerian PU tahun 2022, rata‑rata ruang hijau per kapita di Indonesia itu hanya sekitar 4,5 m² belum setengah dari standar! Kalau Jakarta? Lebih parah lagi, cuma sekitar 2,1 m² per orang. Ini jadi bukti nyata bahwa kita sudah darurat hijau!
Di Bangka Belitung, berdasarkan data BPS tahun 2023, luas tutupan hutan sudah berkurang signifikan. Dulu tahun 2000an, tutupan hutan di provinsi ini masih di angka 40%+, sekarang? Sudah tinggal sekitar 23-25% sesuai data KLHK. Itu artinya dalam kurun waktu 20 tahun lebih, kita sudah kehilangan hampir separuh luas hutan!
Berdasarkan RPJMN 2020-2024, target luas ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan seharusnya 30% dari total luas wilayah. Realitanya? Sebagian besar kota di Indonesia masih jauh dari target ini, termasuk di Bangka Belitung yang notabene lebih banyak lahan tambang daripada taman.
