Albino Arowana Brazil hidup di Tanah Bangka: Bukti Keberhasilan atau Alarm Konservasi?
Bangka Belitung punya kekayaan perairan sendiri. Banyak spesies lokal yang hidup di sungai, rawa, dan kawasan air tawar yang justru belum banyak dikenal. Tetapi karena tidak punya harga fantastis dan tidak viral, keberadaannya sering dianggap biasa saja. Padahal bisa jadi ikan lokal itu jauh lebih penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dibanding satu ekor ikan hias mahal.
Dalam penelitian Valen dkk. tentang konservasi ikan air tawar di Pulau Belitung, peneliti menjelaskan bahwa pendekatan konservasi yang digunakan tidak hanya melihat keberadaan ikan sebagai sumber ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan nilai ekologis, status konservasi, tingkat endemisitas, serta kemampuan spesies untuk dipulihkan kembali pada habitat yang telah mengalami perubahan. Penelitian tersebut mengidentifikasi dan memilih 32 spesies ikan air tawar yang diprioritaskan dalam pendekatan konservasi berbasis reintroduksi di Belitung.
Yang lebih disayangkan, kadang konservasi mulai bergeser maknanya. Ketika mendengar kata konservasi, yang dibayangkan bukan lagi menjaga keberlanjutan alam, tetapi menjaga agar harga tetap tinggi dan nilai jual tetap naik. Akhirnya yang dijaga bukan spesiesnya, tetapi pasarnya.
Penulis sendiri bukan menolak budidaya Albino Arowana Brazil. Justru saya melihat ini sebagai bukti bahwa masyarakat Bangka punya kemampuan besar dalam mengembangkan perikanan dan ekonomi kreatif. Tetapi akan sangat disayangkan kalau semangat itu hanya berhenti pada ikan bernilai tinggi saja tetapi lupa melihat kekayaan yang sudah ada di depan mata.
Menurut pandangan penulis, pertanyaan pentingnya bukan “berapa harga ikan ini lima tahun lagi?”, tetapi “Apa yang tersisa dari ekosistem kita lima tahun lagi?”
Karena kalau suatu saat kita hanya sibuk membanggakan ikan dari luar, sementara spesies lokal perlahan hilang dan tidak lagi dikenal generasi berikutnya, mungkin yang mahal bukan lagi harga ikannya tetapi harga yang harus dibayar oleh lingkungan.
