Kisah Devi di Beltim: Dari Lumpur Sawah ke Sekolah Paket C, Kejar Mimpi 40 KM Menuju Bangku Pedidikan
Kini, selain membantu keluarga, Devi bahkan telah memiliki sawah yang dikelolanya sendiri. Meski belum memastikan akan melanjutkan ke bangku kuliah, Devi bersyukur dapat menyelesaikan pendidikan menengah.
“Nanti saya lihat dulu ke depannya. Yang penting sekarang saya bersyukur sudah bisa lulus,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi sebagian orang, kelulusan itu mungkin hanya sebuah seremoni. Namun bagi Devi, perjalanan menuju ijazah Paket C adalah bukti bahwa kesempatan belajar tidak pernah mengenal kata terlambat.
Esok pagi, gadis dengan senyum manis ini mungkin akan kembali berdiri di tengah sawah miliknya. Bedanya, kini ia melangkah sebagai seorang petani yang telah membuktikan bahwa mimpi dapat tumbuh, bahkan dari hamparan lumpur sekalipun.
Pendidikan Kesetaraan Tekan Angka Putus Sekolah
Bupati Beltim, Kamarudin Muten mengatakan kisah seperti Devi menjadi bukti bahwa pendidikan kesetaraan memiliki peran penting dalam memberikan kesempatan kedua bagi masyarakat yang tidak dapat menyelesaikan sekolah formal.
Menurut Kamarudin, Pemerintah Kabupaten Beltim terus mendorong penuntasan program wajib belajar sembilan tahun melalui berbagai jalur pendidikan, termasuk Paket A, Paket B, dan Paket C.
“Kami ingin memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan. Program kesetaraan menjadi salah satu solusi untuk menekan angka putus sekolah,” katanya.
Kamarudin juga meminta seluruh pemerintah desa, kecamatan, hingga Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil ikut berkolaborasi mendata masyarakat yang belum menamatkan pendidikan dasar.
“Kalau semua bekerja sama, saya optimistis target wajib belajar sembilan tahun di Beltim bisa kita tuntaskan,” ujarnya.
Pada tahun 2026 ini, sebanyak 200 warga belajar mengikuti pelepasan dari empat lembaga pendidikan kesetaraan di Beltim.
Rinciannya terdiri atas 123 warga belajar dari SPNF SKB, 24 warga belajar dari PKBM Bina Taruna, 37 warga belajar dari PKBM Taruna Maju, dan 16 warga belajar dari PKBM Seroja. (rilis @2!)
