Oleh: Irzan Ghandi — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Koordinasi: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., MP.

Pernah denger tentang Arwana Kelesak? Buat masyarakat Bangka Belitung (Babel), ikan lokal yang punya nama ilmiah Scleropages formosus ini bukan cuma sekadar ikan biasa. Sekali liat aja, kamu pasti langsung paham kenapa ikan ini dijuluki “Raja Sungai Dari Belitung”.

Tubuhnya anggun, sisiknya berkilau keemasan, dan kalau berenang kelihatan tenang sekaligus berwibawa banget. Bener-bener definisi permata tersembunyi dari perairan alami Belitung, khususnya di kawasan Sungai Lenggang, Belitung Timur.

Sayangnya, di balik pesonanya yang bikin takjub, ada kabar yang kurang sedap. Si Raja Sungai ini sekarang makin sulit ditemukan di habitat aslinya di pulau Bangka dan Belitung.
Kenapa Badai Sedang Menerpa si Raja Sungai? Sama kayak cerita sedih satwa langka lainnya, populasi Arwana Kelesak terus tertekan. Penyebab utamanya apalagi kalau bukan karena:
1.Perubahan lingkungan dan kerusakan habitat tempat mereka tinggal.
2.Aktivitas penangkapan liar yang nggak terkendali demi ego pasar.

Baca Juga  Upaya Konservasi Orang Utan Kalimantan dalam Menghadapi Ancaman Deforestasi dan Konversi Lahan Sawit

Saking gawatnya, Arwana Asia ini sudah masuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai spesies yang terancam punah. Bahkan sejak tahun 1975, perdagangan internasionalnya dikendalikan super ketat di bawah CITES Appendix I. Artinya? Perlindungannya udah masuk level maksimal!

Bukan cuma soal harganya yang mahal di pasaran ikan hias , Arwana Belitung ini punya nilai ilmiah yang mahal banget. Penelitian terbaru dari Lindiatika (2024) lewat metode DNA barcoding membuktikan kalau karakteristik genetik arwana asal Belitung ini unik dan penting banget dijaga sebagai kekayaan biodiversitas daerah. Jadi, dia ini emang beneran identitas asli dan kebanggaan fauna Bangka Belitung.

Rumah yang Rusak = Kepunahan

Ngebahas Arwana Belitung itu nggak bisa dipisahin dari rumahnya: ekosistem sungai dan rawa. Riset dari Keim dkk. (2021) menyebutkan kalau kawasan seperti Tebat Rasau dan perairan Belitung itu adalah surga keanekaragaman hayati purba yang jadi habitat alami arwana ini.
Logikanya sederhana: kalau rumahnya dirusak oleh keserakahan kita, ya otomatis arwananya bakal punah. Menjaga ikannya berarti wajib menjaga kelestarian sungainya juga. Keberadaan arwana ini sebenarnya adalah “alarm alami” kalau mereka masih ada dan sehat, berarti ekosistem air kita masih bagus. Tapi kalau mereka hilang, berarti alam kita sedang dalam masalah besar.

Baca Juga  Indahnya Kebersamaan Idulfitri 1444 H, Tongin Fangin Tjit Tjong

Jangan Sampai Cuma Jadi Cerita Dongeng

Sedih nggak sih, kalau nanti anak cucu kita cuma bisa ngeliat kegagahan Arwana Kelesak lewat foto di Google, video di YouTube, atau malah cuma ketemu fosilnya di museum? Jangan sampai kelalaian kita hari ini mengorbankan masa depan mereka.

Makanya, seperti yang ditegaskan oleh Kusuma dan Permatasari (2023), perlindungan hukum itu wajib diperketat. Tapi, urusan konservasi ini bukan cuma tugas pemerintah atau ketukan palu hakim aja. Ini tugas kita bareng-bareng! Mulai dari akademisi, mahasiswa, pelajar, komunitas pencinta ikan, sampai masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai.