Tambak milik Zainal diketahui merupakan usaha keluarga yang seluruh pengelolaannya dilakukan bersama anggota keluarga. Menurutnya, kebersihan kolam menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya. Kolam harus dijaga tetap bersih dan tidak berlumut karena lumut berlebihan dapat menurunkan kualitas air serta mengganggu kesehatan ikan.

Sebagai ikan predator, arwana Brazil membutuhkan pakan dengan kandungan protein tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Zainal memberikan pakan berupa keong mas, anak ikan gabus, dan ikan sepat.

Keong mas (Pomacea canaliculata) ternyata memiliki manfaat yang cukup besar sebagai pakan alami ikan predator. Kandungan protein kasarnya dapat mencapai lebih dari 50% dalam bentuk tepung sehingga sering dimanfaatkan sebagai sumber protein alternatif dalam budidaya perikanan (Bombeo-Tuburan dkk., 1995). Selain mudah diperoleh, keong mas juga mengandung asam amino yang baik untuk mendukung pertumbuhan ikan. Tidak heran apabila banyak pembudidaya ikan predator memanfaatkannya sebagai pakan utama maupun tambahan.

Baca Juga  Upaya Konservasi Orang Utan Kalimantan dalam Menghadapi Ancaman Deforestasi dan Konversi Lahan Sawit

Selain menunjang pertumbuhan, pemberian pakan alami juga membantu mempertahankan warna tubuh arwana agar tetap cerah dan menarik. Pada ikan hias bernilai ekonomi tinggi, kualitas warna merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan harga jual. Berbicara mengenai harga, arwana Brazil memang memiliki nilai ekonomi yang luar biasa. Menurut Bapak Zainal, harga anakan dapat dimulai dari sekitar Rp300.000 per ekor. Ketika memasuki usia dewasa, harga ikan jantan dapat mencapai lebih dari Rp20 juta. Bahkan pasangan indukan produktif yang telah menghasilkan anakan dapat dihargai lebih dari Rp50 juta hingga ratusan juta rupiah.

Dalam pandangan penulis, nilai ekonomi yang tinggi tersebut menunjukkan bahwa ikan hias saat ini bukan sekadar pelengkap akuarium, melainkan telah berkembang menjadi aset investasi biologis yang memiliki prospek usaha yang menjanjikan. Yang menarik, menurut Zainal, pasar arwana Brazil di Bangka Belitung justru cukup baik dan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis arwana yang umum dipelihara masyarakat lokal. Jumlah peminatnya juga tergolong banyak, terutama dari kalangan kolektor ikan hias eksklusif.

Baca Juga  Kisah Diah Ayu: Mahasiswi Kristiani Temukan Dunia Baru di Kampus Unmuh Babel

Lalu, apakah ikan ini kurang diminati di Brazil? Jawabannya tidak sepenuhnya demikian. Di negara asalnya, arwana Amazon sebenarnya masih cukup dikenal, namun sebagian besar masyarakat Brazil lebih memanfaatkannya sebagai ikan konsumsi dibandingkan ikan hias. Menurut Pamungkas & Prayogo (2018), ikan arwana merupakan salah satu ikan hias yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Tingginya minat kolektor terhadap ikan ini menyebabkan harga jual arwana relatif tinggi dibandingkan jenis ikan hias lainnya. Oleh karena itu, arwana Brazil yang dibudidayakan oleh Zainal Arifin memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan, terutama karena jumlah pembudidayanya di Bangka Belitung masih sangat terbatas.

Saat ini hanya terdapat dua tambak budidaya arwana Brazil di Bangka Belitung dan salah satunya adalah milik Zainal Arifin. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa peluang usaha budidaya ikan ini masih sangat terbuka lebar. Namun, keberhasilan usaha tentu memerlukan pengetahuan teknis yang memadai, terutama mengenai manajemen kualitas air, pengendalian stres, reproduksi, dan kesehatan ikan.

Baca Juga  Flood Disaster in Eastern Pakistan: A Conservation and Environmental Management Perspective

Menurut saya, usaha yang dijalankan Zainal merupakan contoh nyata bahwa ketekunan, kecintaan terhadap hobi, dan keberanian mengambil risiko dapat menghasilkan peluang ekonomi yang besar. Dari sebuah hobi memelihara ikan, kini lahir usaha keluarga yang menghadirkan salah satu ikan paling eksotis dari Sungai Amazon ke tanah Bangka Belitung. Si raja Amazon itu kini tidak lagi hanya berenang di hutan-hutan Brazil, tetapi juga telah menjadi bagian dari dunia perikanan hias Bangka Belitung.