Menjaga Permata Tersembunyi: Urgensi Konservasi Ikan Endemik Bangka Belitung dan Peran Strategis Yayasan Konservasi
Oleh: Fairuza Khatimah Pakpahan — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Kalau dengar nama Bangka Belitung (Babel), yang langsung terlintas di kepala pasti pantai-pantai cantik dengan batu granit raksasa mirip di film Laskar Pelangi, atau malah industri timahnya. Tapi tahu enggak, sih? Di balik hutan-hutan sekunder dan aliran air rawa gambutnya yang sewarna kopi pekat (alias blackwater), Babel menyimpan “harta karun” yang jauh lebih berharga dan enggak ada kembarannya di belahan dunia lain. Yup, kita lagi ngomongin ikan-ikan endemik super kecil yang hidup di rawa gambut.
Sayangnya, “permata tersembunyi” ini kondisinya lagi kritis banget. Gara-gara tambang timah terbuka (open-pit mining) yang makin merajalela dan hutan yang dibabat buat dijadikan perkebunan kelapa sawit, rumah tempat tinggal ikan-ikan ini hancur lebur dalam dua dekade terakhir. Kalau kita cuma diam, mutiara-mutiara hitam ini bakalan punah total dari bumi Babel.
Kenalan Sama 5 “Permata Tersembunyi” Rawa Babel
Biar kita makin sayang,dan bisa mengenali untuk di konservasi yuk kenalan dulu sama lima spesies ikonik yang lagi berjuang bertahan hidup di sisa-sisa rawa Babel:
Igik Labu (Parosphromenus deissneri) Ikan ini punya julukan keren: The Swimming Sapphire of Bangka alias Permata Nilam dari Bangka. Badannya kecil, tapi warnanya cantik banget kayak batu mulia. Mereka ini tipe ikan yang pilih-pilih tempat tinggal; maunya di air gambut yang asam banget (pH 4,5–5,5) dan suka sembunyi di balik serasah daun mati. Pas pinggiran sungai rusak gara-gara lumpur tambang, suhu air jadi naik turun dan bikin ikan cantik ini stres sampai enggak bisa punya anak lagi. Sekarang, status mereka sudah terancam punah (Endangered).
Kelik Sulung (Encheloclarias tapeinopterus) Jangan bayangin ikan ini kayak lele jumbo yang biasa digoreng di warung pecel lele, ya! Kelik Sulung adalah lele purba berukuran mikro memiliki ukuran panjang total (TL) mencapai sekitar 12,4 cm atau setara dengan 124 mm. Hidupnya misterius banget, ngumpet di jaringan sungai bawah tanah yang ketutup rapat sama akar pohon hutan primer. Di dunianya yang mini, dia bertindak sebagai top predator alias penguasa puncak makanan. Begitu hutan di atasnya ditebang, terowongan air bawah tanahnya runtuh dan keracunan limbah kimia timah. Efeknya? Stok makanan mereka berupa larva serangga langsung habis.
Tempalak Mirah (Betta burdigala) Ini dia cupang alam asli Babel yang statusnya paling gawat darurat alias Critically Endangered (Satu langkah menuju punah!). Badannya merah tua pekat dengan mata biru menyala yang kontras banget. Ingat ya, ini cupang alam asli ciptaan Tuhan, bukan cupang hias hasil kawin silang manusia. Cupang ini rapuh banget; kalau musim kemarau, mereka bertahan hidup di genangan air super dangkal di bawah daun-daun kering rawa. Jadi, bisa dibayangin dong, begitu rawa dikeringkan demi sawit, satu wilayah populasi mereka langsung tewas seketika.
Tempalak Budu (Betta schalleri) Cupang alam yang satu ini punya cara asuh anak yang unik banget, yaitu tipe mouthbrooder. Jadi, si bapak cupang bakal mengerami telur-telurnya di dalam mulut selama berminggu-minggu sampai menetas demi melindungi anaknya dari musuh. Masalahnya, aktivitas tambang inkonvensional (TI) bikin air rawa jadi keruh banget. Air yang butek ini bikin mata ikan jadi buram, ritual pacaran mereka keganggu, dan si bapak cupang jadi stres sampai sering gagal mengerami telurnya.
Tempalak Punggor (Betta chloropharynx) Nama kerennya diambil dari warna hijau metalik yang berkilau di bagian tenggorokan dan tutup insangnya. Daerah asalnya terbatas banget, salah satunya di Riding Panjang, Belinyu. Cupang ini butuh air hitam pekat yang kaya akan asam humat alami hutan. Begitu hutannya digunduli, pasokan asam humat hilang dan air berubah jadi netral atau alkali. Akibatnya fatal buat tubuh ikan, mereka langsung kena penyakit jamur mematikan karena sistem keseimbangan cairan tubuhnya rusak.
Peran Strategis Komunitas The Tanggokers sebagai Benteng Terakhir
