Di tengah situasi yang suram ini, untungnya muncul secercah harapan dari sekelompok anak muda peduli lingkungan yang tergabung dalam Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung atau yang beken dipanggil The Tanggokers .

Data dari Valen dkk.2023 yang bekerjasama dengan The Tanggokers Yayan Ikan Endemik Bangka Belitung telah langsung turun ke lapangan buat jadi benteng pertahanan terakhir lewat tiga aksi nyata:

Aksi Amankan Genetik (Barcoding DNA): Mereka kerja sama dengan kampus-kampus hebat kayak UBB, UNAIR, dan BRIN buat mencatat kode genetik ikan-ikan ini ke bank data dunia (NCBI GenBank). Ini penting banget biar kekayaan asli Indonesia enggak dicuri atau diklaim sepihak sama negara asing.

Baca Juga  Manajemen Keuangan Efektif: Kunci Wujudkan Stabilitas Keuangan

Gerakan Rescue (Penyelamatan Habitat): Mereka nekat masuk ke area-area yang sudah dikepung tambang buat mencari sisa-sisa kantung air (refugia) tempat ikan bertahan hidup. Ikan-ikan yang terjebak langsung dievakuasi dan dibawa ke laboratorium buat diselamatkan dan dibiakkan.

Sadar Sumber Daya (Edukasi Warga): Dulu, warga lokal menganggap ikan-ikan kecil ini cuma “ikan selokan” yang enggak ada gunanya. The Tanggokers pelan-pelan mengubah pola pikir itu, bikin warga sadar kalau ikan-ikan ini adalah maskot kebanggaan daerah (flagship species) yang harus dijaga bareng-bareng.

Urgensi Nyata Ikan Endemik Bangka Belitung

Menyelamatkan Licang, Kelik Sulung, atau Tempalak liar itu bukan cuma urusan menyelamatkan “ikan hias kecil yang enggak bisa dimakan”. Ini jauh lebih besar dari itu! Keberadaan mereka adalah alarm alami kesehatan lingkungan kita.

Baca Juga  SMP Negeri 1 Seyegan Sekolah Siaga Kependudukan

Rawa gambut tempat mereka hidup adalah spons raksasa alami yang berfungsi menyimpan cadangan air bersih buat kehidupan manusia di Bangka Belitung. Kalau ikan-ikan ini punah karena rawanya rusak, rantai makanan bakal putus, ekosistem hancur, dan ujung-ujungnya kita sendiri yang bakal krisis air bersih.

Pemerintah daerah udah enggak bisa lagi pakai alasan “Ah, itu kan cuma dampak sampingan kecil dari industri tambang”. Alasan klasik kayak gitu harus dibuang jauh-jauh. Sekarang saatnya pemerintah ketuk palu dan bikin aturan tegas buat menetapkan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) di wilayah rawa yang tersisa.

Yuk, kita bareng-bareng dukung gerakan komunitas, akademisi, dan semua pihak terkait. Jangan sampai anak cucu kita nanti cuma bisa melihat keindahan “Permata Tersembunyi” Bangka Belitung ini lewat foto atau cerita di buku sejarah doang!

Baca Juga  Kampung Literasi, Batu Bata Fondasi Kabupaten Literasi

Koordinasi: Dr. Sulvi Purwayantie, S.TP., M.P.