Oleh: Windy Shelia Azhar

Tabik lah hai encik,

Saudara Sekalian…

Tabik lah engkau

Dul Muluk ala Bangsawan

Pernahkah Anda mendengar dendang ala melayu ini sebagai pembuka lakon panggung? Tentunya pertanyaan semacam ini memiliki probabilitas 90% dijawab tidak pernah terutama oleh kaum milenial dan generasi Z.

Generasi ini telah tumbuh seiring sejalan dengan pertumbuhan teknologi dan globalisasi yang perlahan mengikis nilai-nilai budaya warisan nenek moyang.

Penggalan syair di atas merupakan ciri khas pembuka lakon panggung yang sungguh termahsyur pada masanya, ya itulah Dul Muluk.

Dul Muluk merupakan kesenian teater yang berasal dari Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Sebagai kesenian yang berasal dari kota yang semula bersaudara satu provinsi, Dul Muluk pun turut menyebar ke wilayah Bangka Belitung.

Baca Juga  Memahami Transisi Anak Menuju Remaja

Pada masanya, orang-orang berbondong berkumpul di tengah lapangan untuk menonton lakon yang sarat dengan ceritera moral juga kadang jenaka.

Alkisah, hiduplah pedagang peranakan Arab bernama Wan Bakar yang gemar berceloteh dan bercerita tentang petualangan hidup seorang tokoh fiksi bernama Abdul Muluk.

Kemudian, cerita petualangan Abdul Muluk dikemas ulang oleh kelompok-kelompok kesenian teater lainnya yang kemudian pertunjukan semacam ini dikenal dengan istilah Dul Muluk.

Pertunjukan teater Dul Muluk kerap menjadi bagian suguhan hiburan masyarakat Bangka di acara-acara besar seperti hari raya dan kumpul masyarakat, serta menjadi bagian dari kenduri.

Tak heran, pesta pernikahan di Bangka dulunya dapat memakan waktu sehari semalam dengan Dul Muluk sebagai hiburan layaknya after party dengan kearifan lokal.

Baca Juga  Laut, Kebersamaan, dan Modal Sosial Nelayan Bangka Selatan

Layaknya pertunjukan panggung seperti Lenong dari Betawi, Dul Muluk juga bersifat interaktif dengan adanya komunikasi dua arah antara aktor dan penonton.

Lelucon-lelucon jenaka yang dekat dengan keseharian masyarakat membuat penonton tertarik untuk menikmati tiap babak hingga tertutup tirai di tengah malam.

Selain itu, hal yang menjadi ciri khas Dul Muluk dibandingkan pertunjukkan panggung nusantara lainnya adalah adanya sajak berirama layaknya pantun yang selalu disenandungkan di tiap pergantian babak.

Sajak ini ibaratkan intro dan outro pergantian babak sebagai rekap untuk diingat penonton.

Sajak yang mendayu-dayu ini sangat kental dengan gaya khas melayu.

Di masa lampau, Dul Muluk hanya dilakoni oleh aktor pria saja meskipun terdapat banyak karakter perempuan dalam satu naskah.

Baca Juga  Menanamkan Nalar Kritis Peserta Didik: Refleksi Dari Pembelajaran Teks Anekdot