Namun, hal ini terdekonstruksikan saat Dul Muluk sempat dipertunjukkan secara kontemporer pada periode 2000-an.

Semua karakter perempuan yang terdiri dari tuan putri, ratu, bahkan dayang diperankan oleh perempuan dengan lawan laga raja, pangeran, diperankan oleh aktor lelaki.

Inklusivitas ini tentunya patut diacungi jempol mengingat perubahan zaman turut memberikan kesetaraan dalam pementasan teater Dul Muluk.

Namun, bukan hal ini yang menjadi titik kekhawatirannya, melainkan eksistensi Dul Muluk itu sendiri.

Tak terdengar lagi pentas Dul Muluk dimainkan di panggung pertunjukkan di Bangka Belitung sejak dekade 2020-an ini.

Kali terakhir pementasan Dul Muluk ditampilkan di festival yang diadakan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat pada 2018.

Hal ini merupakan pengalaman empiris penulis yang kala itu memainkan lakon Putri Kemuning yang dikemas sebagai Dul Muluk kontemporer.

Baca Juga  Implementasi BSAN Berdasarkan Regulasi Terbaru Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026

Apakah Dul Muluk demikian jadulnya hingga minat masyarakat rendah dalam menontonnya? Tentu saja tidak.

Sepanjang yang penulis ingat adalah tepuk tangan dan gelak tawa penonton riuh selama pertunjukkan berlangsung. Padu padan humor sehari-hari yang tidak sekanonik pertunjukkan teater kontemporer modern pada umumnya tentu menjadi benang kedekatan dengan konteks kehidupan penonton.

Masalah utama potensi punahnya warisan budaya ini adalah semangat bekarya pegiat seninya itu sendiri yang mulai redup. Globalisasi memang seperti dua sisi mata koin yang membawa sepaket dampak baik dan buruk.

Tak dapat ditampik bahwa derasnya arus globalisasi memungkinkan kemajuan dalam pengembangan potensi anak muda dengan budaya luar yang lebih maju dan beragam.

Namun, di sisi lain arus globalisasi ini turut menggerus budaya lokal yang pada akhirnya lekang oleh zaman. Generasi muda yang saat ini didominasi oleh Gen Z lebih mengenal dance ala korea dan adegan film Hollywood daripada budaya lokal.

Baca Juga  Eko Telah Pergi, namun Mimpi-Mimpinya Tetap Tinggal di Bumi Serumpun Sebalai

Pegiat teater Dul Muluk pun semakin berkurang seiring dengan transisi waktu. Banyak dari pelakon Dul Muluk telah beralih ke profesi yang lebih menitikberatkan sisi kapital daripada ekspresi karya seni.

Meski hal ini ironis, tapi tak dapat pula ditampik. Walaupun teater tetap hidup di napas sekolah menengah dan perguruan tinggi, semangat eksplorasi dan preservasi seni pertunjukan tradisional masih kurang digalakkan.

Dul Muluk adalah salah satu warisan budaya melayu yang kehadirannya menjadi bukti kekayaan seni pertunjukan di Bumi Serumpun Sebalai.

Hal ini membuktikan bahwa warisan budaya Bangka bukan hanya perkara tari dan lagu daerah seperti umum kebanyakan daerah lainnya.

Riwayatnya yang hampir usai ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat untuk kembali menghidupinya ke berbagai wahana panggung pertunjukan seni di Bangka Belitung.

Baca Juga  Bebek Serati, Benang Persatuan di Kain Cual Ibu Maslina Khas Bangka Belitung

Biografi Penulis

Windy Shelia Azhar adalah penulis lepas kelahiran Pangkalpinang yang saat ini berdomisili di Bali. Ia pernah menempuh pendidikan ilmu sastra dan saat ini mengambil studi di bidang ilmu komunikasi. Kecintaannya pada dunia sastra diwujudkan dengan menjadi Duta Bahasa Kep. Bangka Belitung 2017 serta penulis terpilih Bangka Belitung dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional 2018. Karya tulisnya berbentuk essai, cerpen, dan puisi telah diterbitkan ke berbagai media lokal dan nasional. Ia juga meriah predikat Top 10 Feminism Genre melalui Kumpulan cerpen digitalnya berjudul VIXI. Kunjungi tulisannya di medium.com/@windyazhar atau membangun koneksi dengannya melalui instagram.com/sisigelaprembulan.