Mengawinkan potensi laut dan kekayaan daratan lewat pertanian yang ramah lingkungan (green economy) adalah ibarat sepasang sayap yang harus dikepakkan bersama-sama. Dua hal ini tidak dapat berjalan sendiri-sendiri kalau mau membawa Babel mandiri. Saat ekosistem laut kita jaga untuk memikat wisatawan, di saat yang sama, daratan yang dikelola dengan benar lewat pertanian akan menjaga isi perut masyarakat agar tidak gampang kelaparan. Pilar hijau dan biru inilah yang bakal memutus ketergantungan kronis kita dari sektor tambang ekstraktif yang makin hari makin meredup.

Andaikata laut adalah masa depan, maka daratan Babel harus dikembalikan fungsinya sebagai penyangga kehidupan lewat sektor pertanian. Dulu, waktu timah masih jaya, sektor pertanian sering kali dianaktirikan karena dianggap kalah cepat menghasilkan uang tunai. Sekarang, di era transisi ini, kita wajib menghidupkan lagi kejayaan komoditas lokal yang sempat meredup, seperti Lada Putih (Muntok White Pepper) yang namanya sudah kesohor di pasar dunia. Tata kelola perkebunan kelapa sawit dan karet juga perlu dibenahi agar lebih ramah lingkungan dan benar-benar menguntungkan petani mandiri, bukan cuma pemilik modal besar.

Baca Juga  Alfian, Atlet Renang Tunagrahita Binaan SOIna Babel Siap Bertanding di Jerman

Tantangan terbesar di daratan Babel saat ini adalah ketergantungan kita pada pasokan bahan pangan pokok seperti sayur, beras, dan cabai dari luar pulau. Hal ini yang sering menjadikan harga-harga melonjak dan memicu inflasi di daerah. Di sinilah kreativitas kita diuji. Ribuan hektare lahan kritis bekas tambang yang telantar tersebut dapat direklamasi dan dimanfaatkan untuk pertanian hortikultura lewat sentuhan teknologi pertanian modern. Dengan begitu, Babel pelan-pelan dapat mencukupi kebutuhan pangannya sendiri tanpa perlu selalu menunggu kapal logistik bersandar di pelabuhan.

Tentu saja, memutar balik arah ekonomi dari yang terbiasa menambang ke sektor pertanian dan maritim tidak segampang membalik telapak tangan. Kita harus berhadapan dengan masalah mentalitas sebagian masyarakat yang telanjur terbiasa dengan perputaran uang cepat dan instan dari hasil timah. Masalah modal yang terbatas, rusaknya ekosistem akibat tambang ilegal, sampai minimnya teknologi pasca-panen juga jadi batu sandungan yang cukup berat di lapangan.

Baca Juga  Shabrina Road to Grand Final Indonesian Idol 2025

Untuk mengatasi hambatan ini, pemerintah daerah wajib merangkul banyak pihak lewat kebijakan yang langsung menyentuh akar rumput. Pertama, pemda harus membuka akses modal yang murah dan gampang buat UMKM pesisir, kelompok tani, dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Kedua, aturan zonasi wilayah laut harus ditegakkan dengan tegas tanpa pandang bulu untuk melindungi wilayah tangkap nelayan dari jarahan TI apung ilegal. Terakhir, kurikulum di sekolah-sekolah vokasi atau SMK di Babel serta Balai Latihan Kerja harus dirombak total. Fokusnya harus digeser untuk melahirkan anak muda yang paham teknologi smart farming, manajemen wisata, dan bisnis maritim digital.

Akhirnya, masa depan Bangka Belitung bukan lagi berada di dalam gelapnya lubang tambang, melainkan pada hamparan birunya ombak laut dan hijaunya tanaman di atas tanah kita. Menyongsong era pasca-timah adalah soal keberanian kita untuk berubah bersama. Dengan meletakkan sektor maritim dan pertanian sebagai fondasi utama, kita bukan cuma sedang menyelamatkan ekonomi daerah dari keterpurukan, tapi juga sedang menyiapkan warisan alam yang makmur, mandiri, dan lestari buat anak cucu kita di Bumi Serumpun Sebalai. Semoga! Wallahu A’lam***

Baca Juga  Kenaikan Harga Ayam dan Dampak Ekonomi bagi Masyarakat Pulau Bangka