Oleh: Hermianto — Pembelajar Sosial, Politik dan Pembangunan

Berabad-abad lamanya, isi bumi Bangka Belitung dikuras habis-habisan demi memutar roda industri dunia lewat komoditas timah. Tentunya, kalau kita mau bicara jujur, melihat sejarah kejayaan ekonomi yang hanya mengandalkan kerukan tanah (pertambangan) baik di daerah lain dalam negara Indonesia sendiri maupun di beberapa negara lainnya memiliki batas. Melihat pertumbuhan ekonomi kita belakangan ini, sektor pertambangan justru anjlok paling dalam. Belum lagi pemandangan sehari-hari di sekitar kita penuh dengan lubang kolong yang menganga. Jelas sekali, Bumi Serumpun Sebalai sedang tidak baik-baik saja. Pemerintah daerah dalam ini harus serius menggali dan mengelola potensi daerah lainnya, termasuk juga potensi laut dan lahan pertanian sebagai tumpuan masa depan.

Baca Juga  Program IKAN di Sekolah Dinilai Bisa Jauhkan Siswa Dari Bahaya Narkoba

Anjloknya sektor tambang yang selama ini jadi tulang punggung daerah sebenarnya adalah tamparan keras buat kita semua. Kenyataan pahit ini menjadi bukti kalau bergantung pada satu komoditas mentah itu ibarat menyimpan bom waktu yang sekarang mulai meledak. Tentunya, urusan mengubah wajah ekonomi Babel ini bukan lagi sekadar bahan diskusi keren atau wacana di atas kertas seminar, melainkan masalah perut dan hajat hidup masyarakat banyak.

Persoalan ini bukan sekadar pasokan timah yang kian menipis, melainkan warisan kerusakan lingkungan dan kerentanan ekonomi warga saat harga komoditas global anjlok. Di sisi lain, momentum transisi ini bertepatan dengan bonus demografi lokal yang didominasi oleh Generasi Z dan Milenial. Anak-anak muda produktif ini tidak boleh lagi diarahkan menjadi penambang tradisional, melainkan menjadi motor penggerak peradaban baru yang ramah lingkungan. Dengan kata lain, mereka harus menjadi motor penggerak industri baru yang lebih kreatif dan ramah lingkungan.

Baca Juga  Hari Pahlawan dan Bara Tantangan Global: Saatnya Kita Gelorakan Semangat Juang Membara

Sebagai daerah kepulauan, laut sebenarnya adalah halaman rumah sekaligus masa depan sejati bagi kita. Sayangnya, bertahun-tahun wilayah pesisir kita malah diacak-acak oleh aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) yang menyebabkan air menjadi keruh dan merusak terumbu karang. Pemerintah (Daerah) tidak boleh menutup mata terhadap ini. Sudah waktunya pemerintah daerah melalui kebijakannya menerapkan konsep ekonomi maritim atau blue economy secara nyata, bukan cuma jadi slogan semata. Sektor pariwisata Bahari yang kita punya, menjadi modal kuat dan telah terbukti dapat tumbuh bagus karena keunikan pantai-pantai Babel yang dipenuhi batu granit raksasa.

Bukan cuma pariwisata, nasib nelayan lokal (bukan nelayan-nelayanan) juga harus diperhatikan dan diangkat kelasnya. Pemerintah daerah perlu memfasilitasi modernisasi alat tangkap dan membangun fasilitas gudang beku (cold storage) yang layak di pelabuhan-pelabuhan utama kita. Tujuannya jelas, biar nelayan tidak terpaksa menjual ikan mentah dengan harga murah ke tengkulak. Kita harus kembalikan fungsi laut Babel sebagai pusat ekowisata dan lumbung pangan laut yang hasilnya tidak akan habis dimakan zaman.

Baca Juga  Terima Kasih Nelayan atas Hasil Lautnya