Si Cantik yang kian Menghilang: Krisis Ikan Endemik Bangka Belitung
Data terbaru South dkk. (2025) menyebutkan harga sepasang Betta burdigala mencapai US$15 atau sekitar Rp225.000. Angka yang tidak besar bagi satu pasang, tetapi bayangkan potensinya jika populasi ikan ini berhasil dikembangkan secara masif dan berkelanjutan. Dengan status endemik yang telah dilindungi melalui Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal Sumber Daya Genetik dari Kementerian Hukum dan HAM, tempalak mirah sejatinya adalah aset ekologis sekaligus ekonomis yang hanya dimiliki oleh Kabupaten Bangka Selatan. Ini adalah modal yang tidak ternilai — jika kita mau menjaganya.
Namun perlu dipahami: konservasi ikan bukan sekadar merawat ikannya. Ekosistem gambut dan aliran air hitam tempatnya hidup harus dijaga dengan kesungguhan ilmiah mulai dari profil morfometrik, kajian genomik, hingga dampak siklus musim hujan dan kemarau terhadap populasinya. Ini membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan komunitas lokal bukan hanya satu yayasan yang berjuang dalam keheningan.
Saatnya Bergerak Sebelum Terlambat
Kunjungan mahasiswa Prodi KSDA Universitas Muhammadiyah Babel ke Yayasan Tanggokers pada 8 Mei 2026 adalah langkah kecil yang bermakna. Generasi muda perlu mengenal, mencintai, dan merasa memiliki kekayaan hayati daerahnya sendiri. Tetapi langkah kecil itu harus segera diikuti langkah-langkah besar: kebijakan perlindungan habitat yang konkret, program riset budidaya yang didanai negara, dan pemberdayaan masyarakat pesisir untuk menjadi garda depan konservasi bukan sekadar penonton kepunahan.
Tempalak mirah adalah milik Bangka Belitung dan dunia. Ia bukan sekadar ikan; ia adalah cermin seberapa serius kita merawat warisan alam yang dititipkan kepada kita. Bila kita terus berdiam diri, maka suatu hari anak cucu kita hanya akan mengenal si cantik merah marun noktah biru ini dari foto di museum atau video di internet. Dan ketika itu terjadi, kita tidak bisa lagi berkata: “kami tidak tahu.” Kita tahu. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau bertindak?
Diadaptasi dari tulisan: Dr. Sulvi Puwayantie, S.TP.,MP.
KSDAL, Universitas Muhammadiyah Babel
