Oleh: Dio Saputra – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Di antara rawa gambut dan aliran air hitam Pulau Bangka, hidup seekor ikan kecil yang menarikan keindahan warna merah marun dengan noktah biru pada matanya Bagai tarian lembut yang mengalir di panggung alam yang luas, kehidupan menari dengan caranya sendiri, menghadirkan keidahan yang sederhana namun berarti. Namanya Betta burdigala, atau yang akrab disebut tempalak mirah oleh masyarakat setempat. Ia adalah salah satu dari tujuh ikan endemik Bangka Belitung permata hayati yang tidak ditemukan di tempat lain di muka bumi ini. Namun kini, sang penari semakin jarang melangkah di panggungnya sendiri.

Kekhawatiran ini bukan sekadar perasaan. Sejak 1994, Kottelat & Ng telah mencatat bahwa populasi Betta burdigala berada dalam kondisi rawan (vulnerable). Dua tahun kemudian, IUCN Red List secara resmi mencatatnya sebagai spesies rentan. Dan dalam tiga dekade berikutnya, bukannya membaik statusnya justru merosot menjadi Critically Endangered, atau terancam punah. Ini adalah peringatan keras: kita sedang berada di tepi jurang kehilangan sebuah warisan alam yang tak ternilai.

Baca Juga  Membangun Perekonomian Berbasis Kampung Tua di Bangka Belitung

Apa yang membunuh tempalak mirah? Jawabannya tidak tunggal. Fragmentasi habitat gambut akibat alih fungsi lahan, penangkapan liar untuk perdagangan ikan hias, hingga pencemaran ekosistem air hitam — semua bekerja bersama meruntuhkan rumah si mungil merah ini. Bahkan di pasar ikan akuarium internasional, Low (2019) mencatat bahwa spesies ini mulai tak lagi terlihat diperdagangkan. Ketiadaannya di pasar bukan tanda bahwa ia tidak diminati — melainkan tanda bahwa ia sudah terlanjur langka.

Satu Yayasan, Satu Harapan

Di tengah senyapnya perhatian pemerintah daerah, seorang pegawai swasta bernama Swarlanda berdiri sendirian memikul tanggung jawab yang semestinya ditanggung bersama. Ia mendirikan Yayasan TANGGOKERS — satu-satunya lembaga yang secara aktif melakukan konservasi ikan tawar endemik di Bangka Belitung. Tanpa laboratorium memadai, tanpa dukungan dana dari dinas perikanan maupun lingkungan hidup daerah, yayasan ini tetap bergerak. Ini bukan sekadar dedikasi; ini adalah ironi yang menyayat: satu individu melakukan apa yang seharusnya menjadi program negara.

Baca Juga  Kuota Haji Bangka Belitung Bertambah 39 Jemaah

Yang lebih menampar adalah kenyataan bahwa di California, Amerika Serikat, Betta burdigala berhasil dipijah (diternakkan) dengan cara yang sederhana: akuarium 6 galon, kayu apung, dan daun ketapang untuk menghasilkan air hitam alami. Daun ketapang? Ia tumbuh melimpah di mana-mana di Bangka Belitung. Lantas mengapa kita, yang hidup di tanah asal si cantik ini, justru gagal mempertahankan keberadaannya?

Antara Potensi Ekonomi dan Tanggung Jawab Moral