Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat kian melemah. Tercatat kurs dollar menyentuh angka 18.045,. Terpuruknya nilai rupiah adalah alarm ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Masyarakat sudah merasakan dampaknya walau sehari-hari tidak memegang uang dollar. Kenapa demikian? Ini karena Indonesia masih sangat bergantung pada impor dan belum 100% berdaulat dalam menyediakan kebutuhan masyarakat dalam negeri.

Dilansir dari BBC Indonesia (16/05/26), Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor, nilainya mencapai 70%. Impor ini tersebar pada industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi. Hampir sebagian besar semua barang jadi dari sektor industri ini ada di halaman rumah, di dalam laci lemari, kamar, dapur di rumah kita. Selain impor bahan baku, Indonesia juga masih impor sekitar 20% barang modal.

Contohnya, mesin-mesin pabrik, robot industri, pesawat, kereta sampai peralatan laboratorium. Selain itu sebanyak 9% Indonesia masih impor barang konsumsi. Misalnya, buah, daging, baju dan sepatu, ponsel, laptop, kosmetik dan skincare, sampai kedelai–yang diketahui impornya lebih dari 90%. Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, harga-harga bahan baku impor ini terkerek naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.

Baca Juga  Peningkatan Fasilitas Ruang Kelas untuk Ciptakan Lingkungan Belajar yang Kondusif

Melemahnya nilai rupiah kian menambah berat beban masyarakat. Harga-harga mulai merangkak naik, seperti plastik yang kenaikannya signifikan, oli motor, kedelai yang berakibat pada semakin kecilnya tempe/tahu, kenaikan harga pupuk dan pakan ternak dll. Semua kenaikan harga itu tentu dirasakan rakyat.

“Dalam ekonomi, rakyat kecil sering kali menjadi pihak yang paling akhir menyadari gejolak kurs, tapi paling cepat merasakan dampak kenaikan harga,” jelas Ronny Sasmita Analis senior dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) kepada BBC Indonesia.

Kehidupan rakyat yang semakin terhimpit, pemasukan minim, pengeluaran jor-joran membuat banyak yang terjerat pinjaman online. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan oleh industri pinjaman online alias pinjol mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026.

Masalah ekonomi pada rakyat menghasilkan efek domino yang tidak main-main, kriminalitas meningkat, pencurian, pembunuhan untuk menguasai harta, pinjol yang ribawi, dll.  Mirisnya, pemerintah “belum terlihat” mengambil langkah signifikan dan strategis atas lemahnya nilai rupiah. Rupiah terus bergerak jatuh. Presiden Prabowo dilansir dari Kompas justru menanggapi santai dalam pidato beliau dengan mengatakan:  “Rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Setpres.

Baca Juga  Rupiah Melemah, Hampir Tembus Rp17.000 per Dolar AS

Ini menunjukkan kurang empati dan kurang sensitifnya para penguasa atas kondisi rakyat.

Rupiah Lemah dan Dampak Kapitalisme

Tidak bisa lagi dinafikkan, lemahnya nilai rupiah adalah akibat dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Ekonomi kapitalisme membuat negara berkembang seperti Indonesia terus menjadi negara lemah yang mudah dijajah secara ekonomi oleh negara adidaya/gembong kapitalis yakni Amerika. Standar uang, transaksi internasional (impor/ekspor) menggunakan uang Amerika. Beberapa hal fundamental yang menyebabkan krisisnya nilai tukar rupiah:

Pertama, ketergantungan mata uang hari ini (termasuk rupiah) terhadap fiat money (uang kertas). Uang fiat adalah mata uang yang tidak memiliki nilai intrinsik dan tidak didukung oleh komoditas fisik seperti emas. Fit money dikontrol oleh bank sentral negara atau pemerintah. Bank sentral dapat mengatur pasokan uang untuk mengendalikan inflasi, suku bunga, dan stabilitas ekonomi.

Baca Juga  Representasi Jurnalis Anti-Hoaks: Membangun Peradaban Literasi di Era Informasi Digital

Selain ketergantungan pada bank sentral, fiat money tidak ditopang oleh komoditas berharga seperti emas tapi justtu ditopang oleh legalitas pemerintah. Uang ini laku dan berharga karena masyarakat percaya bahwa pemerintah akan menerima dan menjaminnya dalam transaksi.

Fiat money sangat rentan dipengaruhi oleh kondisi perpolitikan global dan kebijakan bank sentral. Sebab tidak memiliki nilai rill yang benar-benar berharga layaknya emas. Jadi secara penggunaan dan pemilihan alat tukar dengan fiat money saja sudah memposisikan negara-negara penggunanya rentan mengalami krisis nilai tukar.

Kedua, adanya dominasi dollar Amerika Serikat. Berbagai perdagangan luar negeri menggunakan dollar AS. Termasuk pembayaran utang ke lembaga internasional. Akibatnya negara berkembang mengalami peningkatan utang karena nilai uang negara mereka harus dikonversi ke dollar saat membayar perdagangan luar negeri maupun utang piutang. Akibatnya juga harga barang impor menjadi mahal. Ini juga tidak lepas dari posisi Amerika sebagai negara adidaya kaapitalisme yang mendominasi negeri-negeri lain, Amerika melalui lembaga internasional membuat aturan keuangan yang menguntungkan mereka juga menjadi penopang ekonomi mereka.